PEMERAN UTAMA VS FIGURAN, dll…
.bismillah.
.
“Uzzy, *tuuuutt* sedih lagi…. Q jd tkt mw cerita ke *tuuutt* sglnya.. Tkt dia merasa diperlakukan beda….”
.
SMS ini saya terima dari salah seorang sahabat seperjuangan yang saya sayangi, sebut saja Nayla, tadi pagi. *tuuutt* adalah nama sahabat saya lainnya yang juga saya cintai. Nayla meminta saya memberi semangat motivasi ke *tuuuutt*. Nah, berhubung saya bingung motivasi yg dimaksud nayla (apakah motivasi belajar, hidup, berjuang, atau motivasi apa??!!), yasudz akhirnya saya telp saja si *tuuutt*. lama, gak diangkat2. begitu diangkat, malah di-reject. saya sms, gak dibalas. hedew, tantangan seberat apa ya yang sedang dihadapi si *tuuutt*? (ehm. ternyata gak enak didengar ya kalau saya sebut si *tuuutt* lagipula lama nulisnya. baiklah, untuk ke depannya sebut saja dia Aya).
.
Malam ini, barusaaaaaan ini saya telp lagi Aya. lagi-lagi gak diangkat lagi. saya telp lagi, dan akhirnya diangkat juga. heuuu…akhirnya…. Singkat cerita, Aya bercerita kalau dia sedang sdiii karena merasa sebagai pemeran figuran bagi teman2nya. dia juga sdii karena merasa hanya dianggap ada ketika dibutuhkan, didatangi ketika ada perlu saja.
.
Trus saya bilang,”Mungkin kamu gak selalu jadi pemeran utama dalam kehidupan teman2mu, gak setiap temanmu menjadikanmu pemeran utama dalam kehidupan mereka. tapi yang pasti, kamulah pemeran utama dalam kehidupanmu sendiri. kamu tokoh utama dalam filmmu….” –> heuuu,,,ternyata akiu bisa bicara seperti iniiii…;;)
.
dan untuk poin selanjutnya saya berkomentar,”Menjadi orang yang senantiasa dibutuhkan. Bukannya seharusnya kamu malah senang ketika dibutuhkan orang lain?”
.
Trus Aya diam lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banggedz. Trus kita ngebrel ngalor-ngidul (biasya, perempuan…) yg intinya dia curhat. blablabla…dan akhirnya dia kembali tertawa. Wah, senangnyaaa akhirnya yang kucinta kembali tertawa..:-D
.
Saya jadi berpikir ttg apa yang telah saya katakan (heheheheee… ketauan deh kalo ngomong dulu baru mikir). Terkadang saya juga merasa seperti itu. Orang yang saya harapkan menomorsatukan saya, ternyata justru sudah menempatkan sosok lain di urutan pertama kehidupannya. Sosok yang saya ingini mengutamakan saya, justru menomorsekiankan saya…dlsb. Awalnya saya juga sebel, marah, karena harapan tak sesuai kenyataan (kalo di bahasa psikologi namanya “frustrasi” yg katanya Dollard dkk menyebabkan timbulnya “agresi” yaitu aktivitas yang disengaja untuk merugikan orang lain. huiii,,,na’udzubillah!). Padahal ya, saya kan udah menempatkan dia, dia, dan dia itu ya di nomor satu! Top list lah dalam prioritas hidup saya! (nah lo, bingung kan kenapa yang menempati nomor satu di kehidupan saya ada berbanyak sosok? saya pun juga bingung kenapa bisa begitu). tapi kemudian Allah, The Greatest Inspirator, memberikan saya insight bahwa bagaimanapun juga, kitalah pemeran utama dalam kehidupan kita sendiri. Kitalah pusat kehidupan kita (semoga kalimat ini tdk multitafsir).
.
Dalam waktu yang tak sampai sebulan ini, empat orang tetangga saya meninggal dunia. sebelumnya, seorang bapak dosen psikologi dipanggil Allah. tiap kali berta’ziyah, selalu saja terngiang dalam pikiran saya firman Allah yg menyebutkan bahwa pada hari ini seorang anak laki2 tdk dpt memberikan manfaat pada bapaknya dan sebaliknya itu. baiklah, saya cantumkan saja redaksional otentiknya, Q.S. Lukman (31):33
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah.”
ketika berdiri menjelang jenazah diberangkatkan, selaluuuu saja saya kepikiran ayat itu. bagaimana tidak? sekarang, saya masih bisa merengek, “Buk,….” “Pak,….” “Saudaraku,….” “Teman,….” Tapi besok? Hanya sendiri. Dipanggil Sang Pemilik nyawa ini. Mempertanggung jawabkan segalanya. Lagi-lagi, SENDIRI. Diputar ulang kaset film di mana kita menjadi pemeran utama di dalamnya. Inti dari film itu adalah…KITA. Masing-masing dari kita. Saya membayangkan ketika besok saya melihat rekaman kehidupan saya di depan Al-Bashiir, dan tak ada aktivitas saya luput sedikitpun dalam rekaman itu.
“Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.”
QS Al-Infithaar (82):5
Maka hanya ranai air mata yang luruh dari mata ini. Allah, lindungi saya dari apa-apa yang dapat membuat saya menangisi yang telah saya lalaikan dan kesia-siaan yang saya perbuat….T__T
.
Sebenarnya saya juga ada kalanya merasa seperti Aya. didatangi mereka hanya saat dibutuhkan. tapi sebenarnya saya senang, senaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannngg sekali ketika menyadarinya. senangnya ketika mampu memberi manfaat untuk orang lain…^^ Jadi sikap (dalam hal ini saya menggunakan bahasa psikologi, sikap tdk sama dgn perilaku. dalam psikologi, sikap didefinisikan sebagai suatu proses kognitif dalam mengevaluasi atau menilai sesuatu. jadi titik beratnya ada pada proses kognitif dan evaluasi) saya terhadap apa yang aya dan saya rasakan ternyata berbeda. sempat bikin agak tidak senang tapi tidak sampai bikin sebal. saya menyikapi hal itu justru sebagai tohokan untuk diri saya sendiri: berarti masih kurang ngguno buat orang lain! Masih ada berbanyak aksi yang seharusnya dapat saya lakukan untuk orang lain sehingga pengennya saya c mereka datang kepada saya gak cuman kadang2 tapi sering bahkan seriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnngg sekali (sebenarnya mau bilang ’selalu’ tapi jelas tidak mungkin. masa iya, tiap detik mau mendatangi saya terus?). tak masalah jika alasannya karena butuh. Malah seneng banget nooo bisa berguna buat nusa dan bangsa (ehm. maksudnya orang lain ding. lha biasanya klu di lembaran kenduri itu tulisannya semoga anak kami berguna bagi nusa dan bangsa, jhe. hheee…). Justru kalau datangnya dengan maksut ngrusuhi, lha nek ini malah yang nggriseni…
.
Begitu. Untuk saudaraku Aya di sana, syemoga lekas syembuh… semoga apa yang kamu “konsumsi” beberapa hari ini segera dicerna pikiran dan hatimu, n tentunya segera dikeluarkan apa yang gak perlu disimpan…xp Tak masalah jadi figuran, asal figuran yg memainkan peran baik atau protagonis, lagi pula kamu sudah menjadi pemeran utama di filmmu…. Dan untuk yg butuh2an itu, InsyaAllah mereka tdk meng-kadal-i kamu kok, hanya memanfaatkan saja (loh, kok? njuk apa bedanya??!! hhehee.. maksudnya berusaha memperoleh manfaat darimu karena menganggapmu mampu menjadi orang yang paling mulia seperti sabda beliau yg senantiasa kita rindukan, “Khoirunnas anfa’uhum linnas”). Ana ukhibbuki fillah…mwach2…^^
Kita serahkan semua kepada “Sang Sutradara” saja (walau jonge tidak bisa dianalogikan seperti itu sih
) Hehehe
Tuing Production ;)
Hehe… Uzzy, aku pun pernah mengalami yang temanmu alami…
Baru-baru ini aku merenungkan, apakah Allah melihat kita seperti aku melihatmu atau kamu melihatku? Tentu Allah punya cara pandang istimewa sendiri saat menatap kamu dan temanmu juga.
Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang yang Tuhan pilih untuk jadi seseorang yang Ia sayangi bukanlah siapa-siapa. Mereka juga manusia biasa yang juga punya kelemahan dan banyak lakukan kesalahan, bukan? Tapi itulah anugerah, mereka dijadikan Allah luar biasa menurut kacamata Allah karena Ia memandang setiap mereka berharga, terlepas dari kelemahan-kelemahan mereka. Allah tak pernah membuang umat-Nya, bukan, hehe? Jadi, bukan apalah yang manusia pikirkan, tapi berusahalah supaya cara kita memandang diri dan orang lain sama dengan cara Allah memandang diri ini dan orang lain…
Ayat yang kamu kutip itu mengingatkan kita bahwa pusat kehidupan kita adalah Allah.. Segala sesuatunya dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Maka, di kala masalah dan dunia menganggap kita rendah… pandanglah pada Dia yang menciptakan kita dan selalu menatap kita berharga =)
Semoga bisa jadi inspirasi kita, ya… ^^ Keep on writing, Zie…
Yups….
Setuju Yog, sutradara sangat memegang peranan penting…
wuiih
bagus mba’
kadang, eh sering banget ding aq ngerasa kayak gitu (=^^=)
yaaaa, begitulah (bingng ki arep komentar opo)
ini, saya mau ngopi boleh gak?
Aku pernah baca hal yang mirip tentang ini di komik (dasar makhluk manga!) katanya, kita adalah karakter utama dalam hidup kita dan tidak seorang pun bisa mengubah hal itu.
Setuju banget zy, ku juga dulu mikirnya gitu, meski ku cuma dimanfaatin yang penting mereka bisa tetep senyum urusan mereka pergi atau ga itu urusan belakangan yang penting adalah senyum dari orang lain. ^^
@mas tuing2: ehm. yg jelas ini gak lagi ngomongin film ksai ya mas. suhu tuing production ngomongin sutradara2an…kenapa perut saya serasa bergolak ya? (batinku: script… script… script… dia mengingatkanku pada script…)
@zadok: terima kasih telah banyak menginspirasiku, zadok… tetaplah jadi zadok yg santun tapi tetap ucul!
@mas darwinho: hedew… malah setoja sama mas tuing2… yg jelas ini gak lg ngomongin film ksai lho mas… :P
@imad: monggo… silakan copas tapi dicantumkan sumbernya yaa… belajar bertanggung jawab… hueheee… (sebenarnya c skalian sosialisasi blog ini…xixixixiii…) :P
@heri: kamu tuh pancen komik tenan kok, her! semuwa2nya nyambungnya ke komik.blogmu sangat ngomik… di kelas gak suka nyempil2 baca komik to her? ati2 aja klu iya, ntar jadi korban aplot-annya si iwan budiman di FB…
Ngetest emot tuing tuing
@ mas tuing2:
(ngetes emot juga mas, emot khusus bwt mas yoga)
fuh..
fiuh jugaa…
mintol,,,,teman2….
1.apa peran pentingnya peran peran pendukung bagi pemeran utama
2.terus apa pengaruhnya pemeran antagonis agi pemeran utama
3.apa karakter masing masing antara drama asa dan sinetron
tolong leeeee
drama asi maksudku dgn sinetron