May8
bismillah.
yak. marii kita lanjutkan pembahasan ttg ADHD yg sempat tertunda beberapa waktu lalu..

Utk menetapkan seorang anak positif ADHD atau tidak, ada empat kriteria yang dijadikan standardisasi oleh DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-4):
>> Kriteria A
bahwa setidaknya harus ada 6 gejala atau lebih dari innatention dan 6 gejala atau lebih dari hiperaktivitas/impulsif dalam kurun waktu minimal 6 bulan. kemunculan gejala bersifat repetitif atau berulang-ulang selama 6 bulan tsb.
>> Kriteria B
gejala utama muncul sebelum usia 7 tahun. penjelasannya adalah, karena ADHD tidak disebabkan oleh modifikasi perilaku atau belajar sosial tapi lebih pada kondisi fisik. jika onsetnya adalah di atas 7 tahun, kecenderungan yg paling mungkin adalah gangguan perilaku anak disebabkan oleh proses belajar sosialnya (as we know, nalar anak usia di atas 7 tahun sudah jalan bahkan berlari, ya. hehe). nah, jika memang kejadiannya spt itu, bahwa onset di atas 7 tahun, kemungkinan anak ybs mengalami CD (conduct disorder) dan bukan ADHD.
>> Kriteria C
gejala atau symptom kemunculannya minimal pada 2 lingkungan anak, misalnya rumah dan sekolah. jika gejala yg muncul hanya saat anak berada pada situasi tertentu misalnya di rumah saja, kemungkinan besar hal itu terjadi krn proses belajar sosial anak dan bukan karena faktor fisik/biologis. it means, bukan ADHD.
>> Kriteria D (kriteria ini adalah yg saya lupa pas mengerjakan UTS kmrn. semacam mengalami blank out! >,< )
bahwa gejala-gejala yg dialami anak harus memiliki makna yang jelas. misalnya mengganggu kehidupan sosial, akademik, dan intrapersonal anak ybs. kalau cuma anak mjd hiperaktif hanya sekedar bwt caper mah itu bukan ADHD…^^
.
Lalu, bagaimana solusi utk anak-anak ADHD? di sini saya akan berbagi beberapa contoh penanganan dini utk ADHD:
>> terapi medikasi
sesuai namanya, terapi ini menggunakan pendekatan farmakologi atau obat-obatan. nah, yg namanya obat itu kan pasti ada side effect-nya ya. begitu juga dgn terapi ini. misalnya, addicting thd obat, ngantuk, klelar/er. bahkan jika terapi obat dilakukan lebih dari 1 tahun dapat berefek pada penurunan intelejensi anak (panic). oleh karena itu lah terapi ini bukan merupakan unggulan, tapi tetap boleh digunakan terutama jika terjadi double-handicap (semacam gangguan yang lebih dari satu). misalnya nih, anak mengalami ADHD sekaligus epilepsi. nah, terapi obat yg digunakan adalah utk penyembuhan epilepsi dalam rangka supaya tdk memperparah ADHD-nya.
>> terapi nutrisi
means, nutrisinya yg diterapi..
misalnya dengan diet karbohidrat atau dgn konsumsi tylosin (’afwan nek o salah nulisnya. sekiranya ada anak kedokteran atau farmasi mbo an dikoreksi..
hehe) dlm rangka menambah neurotransmitter dalam otak. selain itu, ada juga yg disebut diet benfeingold utk ADHD yg 50% efektif meminimalisir kemunculan kembali gejala ADHD pada diri anak.
>> terapi biomedis
dengan menggunakan herbal jenis tertentu yang dapat menambah jumlah neurotransmitter dalam otak anak. selain itu bisa juga dgn akupuntur.
>> modifikasi perilaku (favoritku!
)
fokus dari terapi ini adalah interaksi sosial, bahasa, dan perawatan diri sendiri. dgn prinsip BIC atau Back In Control. maksudnya adalah penekanan pada pengontrolan perilaku anak. contoh konkretnya meliputi:
a. Parents Training Contingency Management –> pelatihan utk orang tua agar dapat menangani anak ADHD dgn sehat.
b. Classroom Contingency Management –> pelatihan utk kelas anak ybs secara holistik agar mampu menangani anak ADHD secara efektif.
c. Opperant Conditioning –> misalnya dgn prosedur token economic maupun point system. pendekatan ini sangat efektif utk anak usia TK dan SD. secara, anak2 usia segitu seneng bgt dpt reward tentunya.. :D :D
>> terapi bermain
terapi ini berupa permainan yg melibatkan anak ADHD (ya iyalah.. -.-”) dgn peraturan2 yg di-set sedemikian rupa dan harus ada target tertentu, misalnya meningkatkan kemampuan komunikasi sosial pemain2nya.
.
pertanyaan yg biasanya muncul kemudian adalah, terapi mana yg paling efektif utk anak ADHD? dan jawabannya adlh, disesuaikan dgn kondisi anak ADHD ybs… :p masa’ iya anak ADHD yg juga epilepsi, diterapi dgn terapi bermain tanpa dukungan farmakologis, bisa2 pas terapi kejang2 nantii.. (bigeyes)
.
poin selanjutnya yg tak kalah penting adalah Pencegahan ADHD:
>> kontrol ke dokter/psikolog/psikiater sejak kemunculan gejala ADHD, sedini mungkin. yg sering terjadi adalah masih lekatnya stigma pada masyarakat bahwa yg dibawa ke psikolog atau psikiater adalah orang gila, jdnya para orang tua lebih memilih mendiamkannya. padahal mekaten mboten nggih… (eyeroll)
>> perhatian gizi pada ibu hamil. byar tdk ada dampak yg akan berefek pada otak janin.
>> sejak kecil, asupan gizi anak diperhatikan. jangan sampai setiap hari makannya nasi dengan lauk sakarin..
.
nah, sekian teman2 ttg ADHD. bahwa intinya adalah apapun yg terjadi pada anak-anak kita kelak, kita turut andil dalam menjadikannya sebagaimana ia. semoga tdk ada yg mempunyai anak2 ADHD kelak…
kalaupun mmg ada –tp smg tdk ada, ah– the main key is: KESABARAN BUNDA. bahwa utk tetap menyayangi dan mengusahakan kesembuhan buah hati ADHD, tdk ada cara instan semacam menjentikkan jari tengah dengan ibu jari. bahwa hanya dengan kesabaranmu, bunda… engkau mampu bertahan… (cozy) (heart)
allahu a’lam bis shawab. semoga bermanfaat..