uzzy.web.id

Menembus Batas Semesta Kata

yg terlepas dari surga :)

May31

.bismillah.

ada aliran hangat yg bergulir. bergilir. menuruni ruas-ruas di balik tulang iga

tatkala rekah senyummu menyapa, dan bersusul gelayut manja

seketika segala emosiku sirna, dan hanya menyisakan cinta

saat celoteh renyahmu diritmekan gendang telinga

dan aku pun tak mampu utk tak beranjak,

berdiri, membuka pintu, dan mencarimu

lalu menggendongmu, memandikanmu,

mengajarimu naik sepeda…

menemanimu menggambar corat/et abstrak, kreatif!

mengajarimu memasak: ngublek2 telur (begitu katamu), lalu menuangkan di penggorengan

dan kita makan bersamaaa…!! (hungry)

dan memotong kukumu.. (byar cantik dan sholihah, ucapmu. haha… kau memang cantik, dek)

juga, ketika mengajarimu mengaji, mengulangi apa-apa yg sudah diajarkan bu guru di PAUD… ayat2 pendek, hadits2, dan nashid2..

dan yang paling istimewa:

ketika kamu bilang: “Mbak, sini ta’cium.”

lalu menghujani pipiku dgn cium2 mungilmu (walau kadang bau amis krn kamu abis makan ayam goreng), dan kamu berbisik, “Kayla sholihah, to?”

maka utkmu adalah satu: selamat memberati bumi ini dgn kalimat laa ilaaha illallah, sayang… :)

you’re so enchanting. as always(heart_beat)

FORGIVENESS

May26
Today a Quote on Forgiveness from a book called, “Moving On” by Russell Friedman & John W. James, they also host a grief recovery website.

“Forgiveness is giving up the hope of a different or better yesterday . . .Nonforgiveness is a demand that can never be met. What it means is that you want the world to turn backward to the event that caused your pain so it can come out differently. The saddest part of nonforgiveness is that the nonforgiving person is the one who continues to suffer.

That idea of giving up an impossible demand engages a new understanding of what forgiveness really is and suggests how helpful it can be when used properly. It shows just how stuck you can become in the past, which automatically restricts you future.”

Here’s a story, by Sunday Pearson to illustrate this point:

“In July 1964, President Lyndon Johnson signed the Civil Rights Act into law. That evening, two disgruntled Ku Klux Klan members decided that they needed to kill a black person. Any black person.

A 19-year-old black man named Mike Donald happened to be walking along a street in their town, and the two KKK members randomly chose him to be their victim. They drove Mike to a remote area and killed him. That evening, they drove back into town and hung Mike’s body from a tree.

Mike’s mother sat through the entire trial of the two killers. Each day, the prosecutor meticulously depicted to her and the jury the details of her son’s murder and the despicable nature of the two men who perpetrated the crime.

One accused man who turned informant took the witness stand. He was overcome with emotion as he addressed his victim’s mother. It is reported that the courtroom was silent as he began to sob and tell Mike’s mother how sorry he was for what he had done to her son.

It is said that you could have heard a pin drop as Mike’s mother shifted back in her chair, looked first downward, then back up into the face of her son’s killer. In a soft yet clearly audible voice she said, “I forgave you a long time ago.”

The attorney who was interviewed on television later said there wasn’t a dry eye in the courtroom. Although it has been almost 40 years since Mike’s mother spoke those words, their impact is undiminished.

Most of us can relate to anger more easily than we can to forgiveness. Let’s face it…forgiveness sounds like a great idea until we are the one who has to actually do it! Forgiveness is powerful, but it is very hard to do because it goes against the grain of our human behavior. And it is scary because it opens the door to unsettling feelings that require painful soul-searching.

A friend of mine once said, “Forgiveness is not something we do for other people. We do it for ourselves. We are saying, ‘I’m not going to let this eat me alive. I’m going to get well and move on.’”

He’s right. Forgiveness is a choice that cannot be forced or coerced. But by clinging to the past, we scarcely exist in the present.”

keep smiling :):):)

sayang ibu… selalu…

May25

.bismillah.

tentang ibuku…

ibu sayang,

yg mengajarkanku ttg kasih sayang…

yg selalu menasihatiku agar jadi pribadi penyayang…

yg kasih sayangnya tdk berbatas…

bahkan kepada org yg menyakitinya.

.

ibuku sayang…

yg tak jarang sejenak pulang ke rumah sblm kembali lagi ke sekolah

sekedar utk mengambil air wudhu, lalu mendirikan sholat 2 rakaat

dan kadang dgn air mata berlinang

“Mendoakan org yg baru saja menyakiti Ibu,”begitu katamu

agar diampuni Allah, dan tidak perlu dibalas perbuatannya krn Ibu sudah memaafkan.

lanjutmu, seperti itu

dan aku selalu tertegun menyaksikanmu seperti itu

.

atau, kau yg selalu diam setiap kali ayah marah

nasihatmu padaku, bahwa KATA adalah DOA

dan jgn pernah berucap selama suasana masih panas

.

dan juga, kau yg selalu mengingatkanku

tentang syukur dan sabar

.

juga, dirimu yg selalu mencontohkan utk sekedar berbagi kasih sayang

walau hanya berupa makanan

pada orang2 di pinggiran

yg paling sering kau jamah sblm kau berbuka puasa

“Mendahulukan yg lebih membutuhkan,”begitu kalimatmu.

padahal aku tahu Ibu, bahwa engkau baru berbuka dgn air putih,

memilih memberikan jatah buka puasa sunnahmu pada janda-janda tua itu lebih dulu

manusia, yg biasanya dipedulikan org2 partai menjelang pesta politik

sekedar utk meraih suara berkedok simpatik

tapi Ibu, aku tahu

kau tidak seperti itu.

.

ah, ibu sayang…

aku ingin mengikuti jejakmu

walau sulit

dan kutahu itu

ketika aku tersakiti, Ibu…

ingin ku memakinya, atau…

mendoakan agar Allah mengadilinya seadil2nya di akhirat kelak

tapi…

kau selalu berhasil meluluhkan hatiku…

utk tdk berdoa semacam itu…

dan menggantinya, dgn doa yg lebih baik…

.

ibu sayang…

sering kali saya menangis sendirian sebelum tidur,

saya takut… Allah memanggilmu sblm hati ini siap kau tinggalkan

saya benar-benar takut itu…

saya masih belajar menjadi penyayang, Ibu… sebagaimana harapanmu

tp amarah ini, acapkali tak terkendali…

tp kepercayaanmu pdku, bahwa aku mampu..

maka itulah yg menguatkanku..

.

ah, ibu sayang…

saya menyayangimu… selalu…

.

[saat ingin sekali memukul orang itu. tp saya ingat Ibu... dan saya telah memutuskan utk menyayanginya saja. setidaknya berusaha untuk]

how about integrity ??

May18
integrity

integrity

bismillah.

.

terpesona, oleh kata-katanya yang begitu membius

tertakjub, oleh janji-janji spektakulernya

terkagum, oleh megah kalimatnya…

dan waktu menjawab lebih dulu: bahwa bukan semata AKSARA, tapi AKSI nyata

sebelum akal ini sempat bertanya: di manakah realita ??

 

 –Rasulullah itu, seorang yg berintegritas tinggi. mungkin kita sering lupa bahwa acapkali melisankan utk senantiasa meneladinya–

.

detik menjelang monev DIKTI. ditemani rinai hujan di pojok LM Psi, bersama sahabat yg kukasihi…^^

dan uzzy, masih harus belajar, belajar, dan belajar lagii.. :)

Perkenalkan: ADHD (keping 2–tamat)

May8

bismillah.

yak. marii kita lanjutkan pembahasan ttg ADHD yg sempat tertunda beberapa waktu lalu.. (goodluck)

Utk menetapkan seorang anak positif ADHD atau tidak, ada empat kriteria yang dijadikan standardisasi oleh DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-4):

>> Kriteria A

bahwa setidaknya harus ada 6 gejala atau lebih dari innatention dan 6 gejala atau lebih dari hiperaktivitas/impulsif dalam kurun waktu minimal 6 bulan. kemunculan gejala bersifat repetitif atau berulang-ulang selama 6 bulan tsb.

>> Kriteria B

gejala utama muncul sebelum usia 7 tahun. penjelasannya adalah, karena ADHD tidak disebabkan oleh modifikasi perilaku atau belajar sosial tapi lebih pada kondisi fisik. jika onsetnya adalah di atas 7 tahun, kecenderungan yg paling mungkin adalah gangguan perilaku anak disebabkan oleh proses belajar sosialnya (as we know, nalar anak usia di atas 7 tahun sudah jalan bahkan berlari, ya. hehe). nah, jika memang kejadiannya spt itu, bahwa onset di atas 7 tahun, kemungkinan anak ybs mengalami CD (conduct disorder) dan bukan ADHD.

>> Kriteria C

gejala atau symptom kemunculannya minimal pada 2 lingkungan anak, misalnya rumah dan sekolah. jika gejala yg muncul hanya saat anak berada pada situasi tertentu misalnya di rumah saja, kemungkinan besar hal itu terjadi krn proses belajar sosial anak dan bukan karena faktor fisik/biologis. it means, bukan ADHD.

>> Kriteria D (kriteria ini adalah yg saya lupa pas mengerjakan UTS kmrn. semacam mengalami blank out! >,< )

bahwa gejala-gejala yg dialami anak harus memiliki makna yang jelas. misalnya mengganggu kehidupan sosial, akademik, dan intrapersonal anak ybs. kalau cuma anak mjd hiperaktif hanya sekedar bwt caper mah itu bukan ADHD…^^

.

Lalu, bagaimana solusi utk anak-anak ADHD? di sini saya akan berbagi beberapa contoh penanganan dini utk ADHD:

>> terapi medikasi

sesuai namanya, terapi ini menggunakan pendekatan farmakologi atau obat-obatan. nah, yg namanya obat itu kan pasti ada side effect-nya ya. begitu juga dgn terapi ini. misalnya, addicting thd obat, ngantuk, klelar/er. bahkan jika terapi obat dilakukan lebih dari 1 tahun dapat berefek pada penurunan intelejensi anak (panic). oleh karena itu lah terapi ini bukan merupakan unggulan, tapi tetap boleh digunakan terutama jika terjadi double-handicap (semacam gangguan yang lebih dari satu). misalnya nih, anak mengalami ADHD sekaligus epilepsi. nah, terapi obat yg digunakan adalah utk penyembuhan epilepsi dalam rangka supaya tdk memperparah ADHD-nya.

>> terapi nutrisi

means, nutrisinya yg diterapi.. :D misalnya dengan diet karbohidrat atau dgn konsumsi tylosin (’afwan nek o salah nulisnya. sekiranya ada anak kedokteran atau farmasi mbo an dikoreksi.. (goodluck) hehe) dlm rangka menambah neurotransmitter dalam otak. selain itu, ada juga yg disebut diet benfeingold utk ADHD yg 50% efektif meminimalisir kemunculan kembali gejala ADHD pada diri anak.

>> terapi biomedis

dengan menggunakan herbal jenis tertentu yang dapat menambah jumlah neurotransmitter dalam otak anak. selain itu bisa juga dgn akupuntur.

>> modifikasi perilaku (favoritku! :D )

fokus dari terapi ini adalah interaksi sosial, bahasa, dan perawatan diri sendiri. dgn prinsip BIC atau Back In Control. maksudnya adalah penekanan pada pengontrolan perilaku anak. contoh konkretnya meliputi:

a. Parents Training Contingency Management –> pelatihan utk orang tua agar dapat menangani anak ADHD dgn sehat.

b. Classroom Contingency Management –> pelatihan utk kelas anak ybs secara holistik agar mampu menangani anak ADHD secara efektif.

c. Opperant Conditioning –> misalnya dgn prosedur token economic maupun point system. pendekatan ini sangat efektif utk anak usia TK dan SD. secara, anak2 usia segitu seneng bgt dpt reward tentunya.. :D   :D

>> terapi bermain

terapi ini berupa permainan yg melibatkan anak ADHD (ya iyalah.. -.-”) dgn peraturan2 yg di-set sedemikian rupa dan harus ada target tertentu, misalnya meningkatkan kemampuan komunikasi sosial pemain2nya.

.

pertanyaan yg biasanya muncul kemudian adalah, terapi mana yg paling efektif utk anak ADHD? dan jawabannya adlh, disesuaikan dgn kondisi anak ADHD ybs… :p masa’ iya anak ADHD yg juga epilepsi, diterapi dgn terapi bermain tanpa dukungan farmakologis, bisa2 pas terapi kejang2 nantii.. (bigeyes) 

.

 poin selanjutnya yg tak kalah penting adalah Pencegahan ADHD:

>> kontrol ke dokter/psikolog/psikiater sejak kemunculan gejala ADHD, sedini mungkin. yg sering terjadi adalah masih lekatnya stigma pada masyarakat bahwa yg dibawa ke psikolog atau psikiater adalah orang gila, jdnya para orang tua lebih memilih mendiamkannya. padahal mekaten mboten nggih… (eyeroll) 

>> perhatian gizi pada ibu hamil. byar tdk ada dampak yg akan berefek pada otak janin.

>> sejak kecil, asupan gizi anak diperhatikan. jangan sampai setiap hari makannya nasi dengan lauk sakarin.. (okok)

.

nah, sekian teman2 ttg ADHD.  bahwa intinya adalah apapun yg terjadi pada anak-anak kita kelak, kita turut andil dalam menjadikannya sebagaimana ia. semoga tdk ada yg mempunyai anak2 ADHD kelak… (worship) kalaupun mmg ada –tp smg tdk ada, ah– the main key is: KESABARAN BUNDA. bahwa utk tetap menyayangi dan mengusahakan kesembuhan buah hati ADHD, tdk ada cara instan semacam menjentikkan jari tengah dengan ibu jari. bahwa hanya dengan kesabaranmu, bunda… engkau mampu bertahan… (cozy)  (heart)

allahu a’lam bis shawab. semoga bermanfaat..  :-)

« Older EntriesNewer Entries »