uzzy.web.id

Menembus Batas Semesta Kata

SEKEPING RINDU UNTUK TUHANKU

July13

.bismillah.

dan ternyata. tinta takdir telah mengering, menorehkan kisah ttg malam ini… yg penuh air mata. saya tidak bisa berhenti menangis! yg  saya bahasakan sbg rindu pada-Nya… yg termakna dalam bingkai yg terlalu sederhana. bahkan utk menafsirkan rindu, saya tak mampu..:(

…  Wahai yang Menciptakan cinta kasih di seluruh kalbu hambaNYA, Engkau Menghendaki aku mencintaiMU wahai ALLAH, wahai yang Menciptakan lidah saling menyebut nama-nama hambaNYA, Engkau Menghendaki aku menyebut NamaMU wahai ALLAH, wahai yang Menciptakan segala yang indah, keindahan yang terlihat dan yang tak terlihat, keindahan yang terdengar dan tak terdengar, keindahan yang terucapkan dan tak terucapkan, keindahan yang terasa dan tak dapat dirasa, keindahan yang diketahui dan yang tak diketahui, keindahan yang tersaksikan dan yang tersembunyi, semua keindahan itu berasal dari KeindahanMU wahai ALLAH, maka betapa Indahnya Engkau, betapa Lembutnya Engkau.

Maka wahai Pencipta Keindahan, wahai Pencipta Kelembutan, wahai Pencipta Kasih sayang, sebagaimana Engkau Perlihatkan keindahan yang ada pada makhlukMU, sebagaimana Engkau Perlihatkan kelembutan yang ada pada makhlukMU, sebagaimana Engkau Perlihatkan kasih sayang yang ada pada makhlukMU, maka Perlihatkan padaku KeindahanMU wahai ALLAH, Perlihatkan KelembutanMU wahai ALLAH, Perlihatkan Kasih SayangMU wahai ALLAH, walau hanya berupa harapan, walau hanya berupa sangkaan, walau hanya berupa khayalan, walau hanya berupa kerinduan, walau hanya berupa keinginan, walau hanya berupa airmata, walau hanya berupa Pemberian, walau hanya berupa lamunan, walau hanya berupa Kemudahan, walau hanya berupa Pertolongan, asalkan aku mengetahui bahwa itu datang dari KelembutanMU, datang dari Kasih SayangMU, datang dari KeindahanMU…


Alangkah kecewa hamba yang hanya memiliki harapan, hamba yang hanya memiliki khayalan, hamba yang hanya memiliki lamunan, hamba yang hanya memiliki kerinduan, hamba yang hanya ingin dekat, hamba yang hanya mendambakan kelembutan, hamba yang hanya mendambakan ayoman, hamba yang hanya mendambakan kasih sayang, sedangkan modal semua harapanku hanyalah airmata, apakah ia harus dikecewakan oleh yang Maha tak Mengecewakan…


Alangkah hancur perasaannya kalau kerinduannya ditolak oleh yang Maha tak Menolak kerinduan, alangkah berkeping-kepingnya kecintaannya, bila keinginannya untuk dekat tertolak oleh yang Maha tak Menolak hambaNYA yang ingin dekat, itu semua tak ada pada DzatMU, itu semua tak ada dalam SifatMU, itu semua tak ada pada PerbuatanMU, apalagi yang membuatku tertolak sedangkan Engkau yang Maha Menerima, apalagi yang membuatku tersingkir sedangkan Engkau yang Maha Merangkul, apalagi yang membuatku terjauhkan, sedangkan Engkaulah yang Maha Mendekatkan, salahkah aku merindukanMU, sedangkan Engkaulah yang Menciptakan kerinduanku padaMU, salahkah aku menginginkan dekat padaMU, sedangkan Engkaulah yang Menciptakan keinginanku untuk dekat kepadaMU, salahkah aku merasa tenggelam dalam Samudra KelembutanMU, sedangkan Engkaulah yang Menciptakan perasaan itu dihatiku…?


Wahai ALLAH, wahai yang Menamakan DiriNYA ALLAH, wahai yang Menginginkan NamaNYA dipanggil ALLAH, wahai yang Menginginkan lidahku memanggil DzatNYA dengan panggilan ALLAH, wahai yang Menginginkan aku mengharapkanNYA dengan mengingat Nama ALLAH, wahai yang Menciptakan lidahku bergetar menyebut Nama ALLAH, wahai yang Memberikan kemampuan pada jemariku menuliskan Nama ALLAH, maka dengan KemauanMU kusebut NamaMU ALLAH, dengan KeinginanMU kurindukan Engkau ALLAH, dengan KeinginanMU aku ingin dekat kepadaMU wahai ALLAH, salahkah aku berkeinginan, salahkah aku merindukan, salahkah aku ingin dekat, sedangkan semua getaran kalbuku itu adalah KeinginanMU wahai ALLAH?

Maka sebagaimana Engkau Jadikan cacing merangkak tanpa tangan dan kaki, maka jadikan aku merangkak kepadaMU tanpa hambatan, sebagaimana Engkau jadikan anjing najis bertasbih MensucikanMU, maka jadikan aku pendosa hina yang mendambakanMU, sebagaimana Engkau Jadikan air mengalir menjadi beku, maka Jadikan harapanku mengalir kearahMU dan membeku dipintuMU, sebagaimana Engkau Jadikan gunung batu menjadi debu, maka Jadikan seluruh kesalahanku menjadi debu dihadapan KeagunganMU, sebagaimana Engkau Jadikan bumi perkasa terinjak-injak, maka jadikan hawa nafsuku terinjak-injak kerinduanku kepadaMU…


Sebagaimana Engkau Jadikan Raja berwibawa terkalahkan dan terhinakan, maka Jadikan kesombonganku terhinakan oleh KewibawaanMU, sebagaimana Engkau Jadikan sesuatu yang bergerak menjadi diam, maka jadikan tubuhku yang bergerak berubah diam dari segala yang tak Engkau Redhai, sebagaimana Engkau Jadikan semua yang ada menjadi fana, maka jadikanlah gunung dosa ini fana dalam KelembutanMU, sebagaimana Engkau Jadikan yang tak mungkin menjadi kepastian, maka jadikan semua ketidak mungkinanku untuk dekat menjadi janji kepastian.” – Nukilan indah Murabbina al-Habib Munzir ibn Fuad ibn `Abdurahman al-Musawa ???? ???? ?????

sumber: http://ukhti27.blogspot.com/2009/12/merindukan-allah.html (semoga Allah senantiasa merahmati ukhtina ini, di manapun ia berada)

CURHAT! tapi bo’ong…:p

June15

.bismillah.

.

Ukhtii,,,andai kau tau rasa hati ini

manakala yang kedua kali terjadi… yang ternyata lebih sakit dari yang dulu pernah kualami

dulu, kau pernah menjelma sebagai sosok lain

menyambangiku penuh cinta… peluk hangat, cium pipi tiap hari

cerah hatiku semakin benderang

hingga ada sosoknya datang, dan kau berpaling

aku merasa ditinggalkan…

cerahku digantikan muram

dan aku menyebutnya sebagai trauma yg takkan terulang! T___T

[...]

dan kini, kau menjelma menjadi sosok lain

mendekatiku, sedikit ragu di dadaku

aku takut, akan berakhir seperti dulu

namun kau terlalu baik untuk kupalingkan hati ini darimu

sebersit sayang menjelma cinta

[...]

namun ternyata, trauma itu benar2 nyata untuk yang kedua

kau menemukannya, dan bilang cintamu padaku tak sedikitpun berubah

namun yang kudapati ternyata tak sama

ada sekat yang memisahkanku dgn kalian

kucoba melewatinya, justru sekat itu semakin kuat

hingga kusadari kalian mempunyai dunia sendiri, yg serasa tak mungkin kumasuki

Ya, aku merasakan lagi

dan siapa bilang, pengalaman kedua jauh lebih ringan?

TIDAK! sama sekali tidak!

sedih hatiku mirih lagi… untuk yg kedua kali… :((

kau mungkin takkan pernah tau itu

karena kau selalu benar dgn segala argumenmu

sementara aku, dgn kapasitasku sebagai angka 1 yg selalu kau lihat sbg angka 10

tak kan pernah bisa membantahmu

[...]

dan untuk pertama kalinya aku menuntutmu

untuk mendengarkan sblm mematikan kataku

untuk memahami sebelum menasihati

karena kau selalu melihat dari sudut pandangmu

dan tak pernah memberi jeda untukku menyelesaikan bicara

maka solusi super cepatmu jarang sekali tepat dan akurat untukku

Ya, kau sangat cepat dalam menanggapi

namun tak pernah kau coba pahami keadaanku saat ku bercerita

akibatnya, cepat namun tak tepat

Tanggapanmu selalu benar namun tak mengena sasaran

karena sejatinya kamu belum paham

[...]

pernahkah kau mencoba melihat kondisiku dari sudut pandangku?

pernahkah kau mengindahkan situasi yg kuhadapi saat aku bercerita?

pernahkah kau PAHAM kondisi batinku?

SAMA SEKALI TIDAK!

karena dalil-dalilmu selalu menenggelamkan alasanku

dalil yg tak pernah salah, argumen selalu benar

benar yang tak tepat sasaran…

[...]

Dan taukah kamu ketika kau sepelekan permintaanku untuknya?

Kau berkata ia tk mempermasalahkannya..

padahal, sekarang dgn yg telah lalu sangat berbeda kini

Dia tak lagi percaya padaku sejak kejadian itu

DAn ketika kuminta kau, sebagai orang yg dipercayanya kini, untuk memperbaiki hubungan kami

Kau selalu berkata dgn rekah senyum manismu,”Itu hanya perasaanmu…”

Sejatinya, kau tak tahu ceritaku dengannya dulu…

dan kamu tak pernah mau tau

maka mungkin inilah maksudnya ketika dia berujar,”Dia selalu benar! Namun menyakitkan!”

dan kupikir itulah maksud ucapannya kala itu,”Kamu akan mati jika tetap berbicara seperti ini!”

[tamat]

.

huiiii…ngeri ya puisinya! hehheee… syantai, syantaii… itu tadi hanyalah sepenggal bagian dari calon cerpen  FIKSIyg mau saya tulis.  tentang persahabatan intinya. terinspirasi dari semesesnya mas tuing2 ttg sabda Rasulullah tercinta yg intinya mencintai secara proporsional. Nah, saya ceritanya itu mau nulis tentang persahabatan ikhwah gt2 d… tp memang mau ta’bikin XL (Xtra Lebaiy) di mana mereka saling mencintai namun hampir kandas di tengah jalan krn salah seorang darinya mencintai orang lain. nah, ikhwah satunya lagi merasa tersakiti karena ini merupakan pengalaman traumatisnya yg kedua kali. nah, si ikhwah yg jatuh cinta sama ikhwah baru itu selalu mengeluarkan dalil2 yg intinya, “Bukankah semuanya karena Allah? SWGTL?!”  nah, itu membuat si ikhwah yg punya trauma td semakin sakiiiitt… dia blm paham kok ya langsung berdalilo2 ria to ya… kira2 bgitu. Arrgghhh…jadi gak jelas gini to?!
.

Intinya sakjane tu simpel kok, saya cuman pengen bilang… PAHAMI dulu sebelum KOMENTAR! seperti salah satu postingan saudara seperjuangan saya di blognya yg diberi judul “BICARALAH DGN BAHASA MANUSIA“. sakjane ini mengingatkan diri saya sendiri c, yg sering tergesa2 dlm memberi advise atau berargumen pdhl belum betul2 mengerti kondisi lawan bicara saya, latar belakangnya, kronologis pengalamannya..apakah pernah mengalami hal2 seperti ini atau tidak…dsb.. (hueheee…memangnya mau nulis biografi ya,,,curhat aja pake ngurutin sejarahnya…)

.

Ah, udah, ah! besok UAS! Aiyo uzzy! SINAUUUUUUUUUUUUUUUU!!! malah ngeblog wae! Astaghfirullah…jadi pemarah gn… gara2 baca novel sadis “The Missing”, bahasa n tulisankiu jadi sarkasme gini..ecapekdeh…[self serving bias-mode on]

.

btw…saat lagi nulis ttg broken heart2-an yg padahal fiksi yang dilebaikan ini..tiba2 saya baruuuu saja ini dpt semeses dari saudara se-dugem(duduk gembira melingkar)-an saya: “:D meng kangen, ukhibbuki fillah :-* ” hohohooo…so cwiiittt… kok ya pas to yaaaa momennya….:D

BULAN MERAH JAMBU

March12

Malam merayap lambat. Bulan purnama menggantung di atap dunia. Di sekitarnya gerlap gemintang tersemat. Langit di penghujung malam tampak kelam tapi cantik. Anggun.

Aku takut gelap. Aku takut langit malam. Walaupun cantik! Meskipun anggun! Semesta yang hampa. Tak ada suara. Yang tersisa hanya indah yang mati ternetra, bisu tanpa kata-kata. Suasana yang mengingatkanku pada kematian. Aku tak mau mati. Aku tak ingin sendiri. Ditemani sematan-sematan hiasan langit pun aku tak sudi mati! Mereka tak bisa kuajak berbagi karena mereka punya kehidupan sendiri. Hidup dalam mati.

Kematian mengingatkanku pada percakapan umi dengan Bu Dokter sepuluh tahun silam.

“Bagaimana, Dok?”suara umi terdengar harap-harap cemas.

“Paru-paru basah,”jawab dokter singkat.

Kulihat mata umi berselaput pecahan-pecahan mozaik bening. Air matanya hampir tumpah.

“Tapi Rena baru lima tahun,”umi protes.

Pak Dokter tersenyum samar.

“Masih ada harapan kan, Dokter?”kejar umi.

“Tentu saja, Bu. Yang penting Rena tidak boleh terlalu lelah. Makan dan istirahatnya harus cukup dan teratur.”

Kuperhatikan raut wajah umi. Kurasa umi ingin menangis. Umi memandangku syahdu. Umi tidak menyadari kalau percakapan barusan telah kurekam dalam memori dan akan tetap tersimpan hingga kemudian hari.

Sejak percakapan itu umi jadi sering menangis. Abi juga ikut-ikutan. Aku sering mengintip mereka menumpahkan air mata ketika salat malam. Tak tahu kenapa.

Gendang telingaku yang peka terhadap suara membuatku sering terjaga. Apalagi ruang tidur kami bertiga menyatu dengan tempat salat.

Hingga tiba suatu masa di mana umi bercerita pada rekannya kalau aku punya kakak yang telah meninggal dunia. Kata umi, waktu itu aku belum ada di dunia. Sama sepertiku, kakakku menderita paru-paru basah. Sejak saat itu aku pun tahu apa yang membuat umi dan abi menjadi cengeng di penghujung malam.

Seribu masa malam bertandang, seribu masa malam hilang. Usia delapanku telah lalu. Aku masih sering diajak umi berkunjung ke rumah Bu Dokter. Kalau tidak ke rumahnya, pasti kami bermain ke rumah sakit tempatnya bekerja.

Sore harinya kulahap waktu dengan mengaji di TPA dekat rumah. Di sana aku mulai tahu rahasia di balik salat malam.

“Adek-adek, ada yang tahu apa itu salat malam?”tanya Kak Silvi, guru mengaji kami.

“Salat yang dikerjakan malam-malam, Kak!”jawabku tanpa malu.

Kak Silvi mengulum senyum.

“Benar,”jawabnya.

“Lalu apa bedanya dengan salat Isya’?”tanya Ida, teman akrabku.

“Ada yang tahu?”Kak Silvi melempar pertanyaan Ida pada kami.

Semua saling pandang. Diam.

“Baiklah kalau belum ada yang tahu. Jadi, salat malam itu dikerjakan sesudah salat Isya’. Waktu yang paling utama untuk mengerjakannya adalah sepertiga malam terakhir. Ya… sekitar jam dua sampai jam empat atau sebelum Subuh,”terang Kak Silvi.

“Pahalanya gede ya, Kak?”tanyaku lagi pada Kak Silvi.

“Iya! Bahkan lebih istimewa dari dunia seisinya,”jawabnya.

Sepulang dari TPA, niat untuk mendirikan salat malam pun mencuat dalam diri.

“Umi, nanti malam Rena ikut salat malam, ya?”pintaku pada umi yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.

Umi menghentikan aktivitasnya. Tatapan lembutnya diselimuti perasaan heran.

“Rena ingin dapat hadiah istimewa dari Tuhan,”terangku sebelum umi sempat berkomentar.

Umi tersenyum. Dilepaskannya jilbab lucuku begitu melihat peluh menyembul dari pori-pori dahiku.

“Boleh,”jawab umi pendek.

Hingga kini, ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun, hadiah-hadiah istimewa Tuhan selalu kupinta. Dan Tuhan selalu mengabulkannya. Dia berikan bulan merah jambu selalu, pada sepertiga akhir malam.

Malam yang sama seperti biasanya. Kutunaikan hak Tuhanku di ujung malam. Tepat di depan hamparan sajadah, berdiri dinding kokoh kamar yang di bagian atasnya ada ventilasi terbuka. Namun jarang sekali kuindahkan lubang udara itu. Lubang udara itu selalu menunjukkan kehidupan langit malam yang diam. Mati. Sendiri. Mengingatkanku pada maut yang siap merenggut jiwa-jiwa makhluk.

Bulan merah jambu kembali mengunjungiku. Sekarang sedang bersemayam tenang di balik kelambu harapan yang menghiasi ruang kecil di balik tulang iga, yang kurajut perlahan sejak lama. Cubitan-cubitan nakal atmosfer malam menggelitikku, membantuku mengusir gelayut kantuk yang sedari tadi bermanja dalam kelopak mata. Satu nikmat-Nya kembali kurasa. Bulan merah jambu tetap di tempat yang sama.

Kain bersahaja terhampar di hadapan, menunggu waktu yang tepat untuk bercumbu dengan dahiku. Dan ketika tegakku terpenuhi, inginnya pun kupenuhi. Keduanya bermesraan di balik hati yang penuh kerendahan. Bulan merah jambu tak mau beranjak dari persemayaman.

Detik seakan lesap dari rute yang seharusnya dititi dalam tetap. Namun itu semua hanya ada dalam tatap rasaku. Inginku malam tak merayap lagi agar bulan merah jambu selalu di hati. Realita lain bercerita. Panggilan Subuh menggema, menyamarkan wujud bulan merah jambu. Hilang digantikan kesibukan duniawi yang menanti. Aku menangis. Rindu bulan merah jambu. Kutunggu ujung malam bertandang lagi.

Begitulah. Kujalani hari-hariku. Mendapati bulan merah jambu datang lalu pergi dan kembali kunanti kehadirannya.

Usiaku menginjak angka sembilan belas. Salat malam masih menjadi momen terindah. Bulan merah jambu pun senantiasa menemani sujud-sujudku di penghujung malam. Hingga suatu hari kulihat bumi berputar begitu kencang. Tak ada lagi daya yag tersisa untuk menopang badan. Aku ambruk. Sesak menjerat. Keringat dingin mendesak-desak dari dalam kulit. Dan kusadari itulah akhir dari ceitaku. Mati yang kutakuti pun menyapa.

Tak lama setelah air mata umi dan abi terkuras serta badanku ditelan bumi kulihat bulan merah jambu datang perlahan. Dalam dekapan takut aku terheran-heran.

“Apa kau akan meninggalkanku lagi?”tanyaku dalam cemas.

Bulan merah jambu menggeleng.

“Mulai saat ini aku akan menemanimu selalu,”jawabnya.

“Janji?”tantangku.

“Demi Allah yang menggenggam jiwa-jiwa manusia,”ujarnya lagi.

Segera kupeluk bulan merah jambu yang kini kutahu bahwa salat malamku lah yang telah mejadikannya dan akan menemaniku selalu di sini. Di kehidupan yang indah setelah kematian, yang jauh lebih indah dari anggunnya malam. Dan yang terpenting, di sini tidak ada diam.