Judul postingan ini merupakan satu kalimat yg diucapkan oleh teman saya ketika dia ditanya tentang kabarnya beberapa waktu yg lalu. Dengan gaya kenesnya, sebut saja tyutch (xoxoxoo…memang namanya tyutch! ) melontarkan kalimat itu pada suatu sore di lapangan rumput Psikologi. Mulanya berasa UCUL sekali waktu mendengarnya, kemayu sekali ini anak.. begitu saya pikir waktu itu. Namun seiring berjalannya waktu dan berputarnya roda kehidupan (halah), saya jadi sangat menghormati dan menghargai jawaban tyutch kala itu. Terutama sejak kelompok saya mempresentasikan materi BULIMIA dan ANOREKSIA NERVOSA di kelas psikologi abnormal. Betapa kalimat “Hari ini aku merasa cantik!” sangat berarti bagi seorang perempuan, bahkan pada level tertentu dapat sangat memengaruhi hidup matinya…
Bulimia nervosa. Kalok di bahasa kita, kira2 artinya gangguan makan yang dicirikan dengan pesta makan gila2an dalam sekejap… lalu dimuntahkan kembali… Eits, jangan dikira ini masalah sepele. Bulimic (orang yg menderita bulimia) stadium tinggi kalok muntah gak cuman hoek2 trus selesai. Sampai yg keluar berupa air?? um , um, um! Tidak sampai di situ saja. Dalam salah satu episod Oprah Winfrey Show yg membahas ttg gangguan makan, seorang bulimic yg jd bintang tamu bahkan muntah2nya sampai berdarah2! Iiiiya! Jadi dia maem byk2, trus disodok2 tenggorokannya, trus hoek2 keluar lagi makanannya, trus disodok2 lg yg keluar air, disodok2 terus sampai yg keluar darah dr dinding lambungnya yg terluka…
Nah, kalok anoreksik (orang yg anoreksia) justru gak mau makan sama sekali. Bahasanya kita, diet mati2an… Sampai kuruuuuuuss banggetz…
Salah satu penyebab bulimia dan anoreksia nervosa adalah perasaan inferi orang ybs. biasanya c merasa kurang cantik. bahkan ada lho pengidap anoreksia yang punya keyakinan dalam diri kalok dirinya itu cantik ketika tinggal lunglit saja, begitu ada otot (daging) dikiiiiiit aja dia sudah merasa genduuuuut sekali.
Apakah anorexic dan bulimic adalah orang2 yg MEMANG gak cantik? Let’s check this vid!
…to be continued, yaaa… masih byk hal lain yg berhubungan dgn “Hari ini aku merasa cantik!” selain bulimia dan anoreksia nervosa. Tunggu kelanjutannya!
Asyiknya belajar psikologi. Mempelajari hal-hal yang terkait dengan diri dan kehidupan kita. Belajar bagaimana belajar, begitu ngendikanipun Pak Dosen Helly. Seperti yang akan saya tulis sekarang ini… belajar mengenal diri sendiri. Yang katanya, sebagai sarana mengenal Allah Yang Maha MEncintai…^^
Kalau George A. Kelly punya teori trait sbg pemaparan kepribadian versinya, Cattell dan Allport beda lagi. mereka mengelompokkan kepribadian dengan analisis faktor yang pendekatannya disebut Big Five Personality, meliputi: openness to experiences, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuoriticism (kalok disingkat jadi apa, tmn2…?? Yak benaaarrr… OCEAN! memudahkan u/ menghafalnya kan?). Jung dan Eysenck punya pendapat juga ttg kepribadian manusia. keduanya berteori kalau personaliti terdiri dari dua macam, extrovert dan introvert.
Tapi di sini saya tdk akan membicarakan Trait Theory, Big Five Personality, maupun pendapatnya Jung n Eysenck. cukuplah dibicarakan di kelas saja, hheee…. Ini tadi hanya sekalian mengingat2 materi yg udah didapat di kelas kepribadian saja…
Nah, di samping teori-teori kepribadian di atas ternyata masih ada teori lain ttg kepribadian yang mulanya dicetuskan oleh Hipocrates dan disempurnakan oleh Galen. berdasarkan teori ini, kepribadian manusia terdiri dari empat macam yaitu sanguinis, melankolis, kholeris, dan plegmatis. Walaupun terbilang sudah sepuh, teori ini tetap akrab di telinga anak-anak psikologi. ditambah lagi, setelah diterbitkan buku Personality Plus karya Florence Littauer yang mengupas ttg bahasan ini. Mau tau kepribadianmu termasuk yg mana? Let’s cekidot…
>>SiKOLERIS, katanya c:
* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis, dan aktif * Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan. kalok kita bilang c perfeksionis * Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/target * Bebas dan mandiri * Berani menghadapi tantangan dan masalah * Prinsipnya: “Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini!” * Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat * Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas * Membuat dan menentukan tujuan (visioner) * Terdorong oleh tantangan dan tantangan * Tidak begitu perlu teman (hohhooo…) * Mau memimpin dan mengorganisasi (leadership-nya oke cuy!) * Biasanya benar dan punya visi ke depan * Unggul dalam keadaan darurat
Tapi dia juga gini…
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis) * Senang memerintah * Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai * Menyukai kontroversi dan pertengkaran * Terlalu kaku dan kuat/keras * Tidak menyukai air mata dan emosi, tidak simpatik * Tidak suka yang sepele dan bertele-tele/terlalu rinci * Sering membuat keputusan tergesa-gesa * Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain * Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan alias pragmatis! * Workaholics (kerja adalah “Tuhan”-nya) * Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer
>> Yang PLEGMATIS, katanya c:
* Mudah bergaul, santai, tenang, dan teguh * Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik * Tidak banyak bicara dan cenderung bijaksana * Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi) * Kuat di bidang administrasi dan cenderung ingin segalanya terorganisasi (orangnya rapi) * Penengah masalah yg baik * Cenderung berusaha menemukan cara termudah * Baik di bawah tekanan (no crack under pressure!) * Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan * Rasa humor yg tajam * Senang melihat dan mengawasi * Berbelaskasihan dan peduli (bersih peofesional??) * Mudah diajak rukun dan damai
tapi dianya juga gini…
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/kegiatan baru * Takut dan khawatir * Menghindari konflik dan tanggung jawab * Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar) * Terlalu pemalu dan pendiam * Humor kering dan mengejek (Sarkatis) * Kurang berorientasi pada tujuan * Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri * Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat * Tidak senang didesak-desak * Menunda-nunda/menggantungkan masalah
>> Si SANGUINIS, katanya c:
* Suka bicara * Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif * Antusias dan ekspresif * Ceria dan penuh rasa ingin tahu * Hidup di masa sekarang, gak suka mengingat2 masa lalu maupun berkhayal ttg masa depan * Mudah berubah (banyak kegiatan/keinginan) * Berhati tulus dan kekanak-kanakan * Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara) * Umumnya hebat di permukaan * Mudah berteman dan menyukai orang lain * Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian * Menyenangkan dan dicemburui orang lain * Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam) * Mengambil inisiatif/menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan * Menyukai hal-hal yang spontan
tapi dia juga ginii…
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras) * Membesar-besarkan suatu hal/kejadian, kalok dalam bahasa qt c “lebaiy” * Susah untuk diam * Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank) * Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele * RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek) * Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias) * Mudah berubah-ubah * Susah datang tepat waktu jam kantor * Prioritas kegiatan kacau * Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas * Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya * Egoistis * Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama * Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”
>> The MELANCHOLIC, katanya c:
* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran * Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal * Artistik, musikal, dan kreatif (filsafati+puitis=..???) * Sensitif * Mau mengorbankan diri dan idealis * Standar tinggi dan perfeksionis * Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi) * Hemat * Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif) * Kalau sudah mulai, dituntaskan. * Berteman dengan hati-hati. * Puas di belakang layar, menghindari perhatian. * Mau mendengar keluhan, setia, dan mengabdi (loyalitas tinggi) * Sangat memperhatikan orang lain
tapinya dia juga gini…
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan) * Mengingat yang negatif & pendendam * Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah * Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan * Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah * Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..) * Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan * Hidup berdasarkan definisi * Sulit bersosialisasi * Tukang kritik tetapi sensitif terhadap kritik/yg menentang dirinya * Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang) * Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian) * Memerlukan persetujuan
Kalok kita memenuhi seluruh kriteria salah satu kepribadian tsb berarti kita sempurna.. maksudnya (misalnya) Melankolis sempurna. Biasanya c campuran… misalnya sanguinis-plegmatis, dlsb. Tapi sebenarnya juga gak semudah itu c menentukan kepribadian kita, itu tadi hanya gambaran garis besarnya. Kalau mau tau kepribadian kita secara valid… datang saja ke UKP UGM dan silakan tes kepribadian di sana! InsyaALlah validitas dan reliabilitasnya terjamin krn tes2nya telah distandardisasi. hehee…
Kuliah psi abnormal 24′03′09 membahas schizophrenia atawa skizofren. Menariknya, kuliah pagi itu tak dilakukan di kelas 303 seperti biasanya tapi di auditorium G100, bareng tmand2 seangkatan dengan setting yang dibuatt layaknya seminar besar. Yang lbii menarik lagi adalah para pembicaranya yg sangat ahli di bidang schizophrenia, ada Pak Dosen Bandi yg sedang kerja sama bareng seorang profesor dari Hardvard University dlm rangka pengembangan ilmu yg berhub dgn schizophrenia, juga ada Bu Karla yang ternyata menantu dari pemilik Puri Nirmala (salah satu tempat rehabilitasi orang-orang yang ingin menyembuhkan jiwanya di Yogyakarta), dan seorang yg sedang menuju sembuh dari schizophrenia yg juga penulis buku Ratu Adil (memoarnya selama menjadi Schizophren)…dialaaaaaaah… Mbak Evi…..!! (halah)
.
Nhaa,,,selama kuliah 3 SKS ini, uzzy dapat byk bgt hal yg berhubungan dgn schizophrenia. Di antaranya adalah gejala-gejala yang merujuk pada Schizophrenia. Sttt,,,perhatiin baik2 ya, n silakan check diri masing2 apakah ada symptomps ini. Tapi semoga gag ada yg mempunyai gejala2 di bawah ini. Tapi memang sebaiknya tetap dicek saja. Tapi semoga gag ada ya…
.
>> GANGGUAN BENTUK PEMIKIRAN<<
a. Asosiasi Longgar
Maksudnyaaa… mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Contohnyaaaa… ah, gag usah yang empiris bagi kita-kita ya… ntar malah byk yg tersungging tersinggung… hhehee… Contohnya dari lirik lagunya pilem paporit kita2 pas msii anak2 saja, yaitu lagu penutupnya Chibi Maruko Chan:
”Apapun siapapun semua
Menari dengan penuh gembira
Dan dalam panci kita semua
Paman kikir suka menghukum orang
Pap pap parapa Picara picara
Pap pap parapa Picara picara
Menari gembira
Picara picara
Perutku lapar sekali”
(wkwkwkwkwk… huahahahahahahahaaaaaahagz. Dulu malah gag memperhatikan sama sekaliii…..)
Ehm. Ehm ehm. Yak, bagi kita yang mungkin merasa sering ngomong gag nyambung antarkalimat spt lagu penutupnya pilem chibi maruko chan di atas… waspadalah, waspadalah!
b. Neologisme
Maksdunyaaaa… gemar bikin kata2 baru yang orang lain gag teu maksudnya.
Contohnyaaa… lucu jadi ucul, ucul jadi lucu… (halah). Wew, berarti ane termasuk orang2 neologis nih. Eh, tapi yo enggag ding. Kan udah pada ngerti maksud dari yg ane katakan. Malahan ya, Nadia n Intan jadi ngikut ngomong “Iiiihhh… ucul…” wktu liat yg lucu. Yes, brarti gag schizophrenia.
Lah, nek gitu contohnya gimana ya? Ummm,,, gini. Contohnya mau bilang “Maem” jadinya “Xhdlsakoidtgvsaydgd (cuma asal ketik og–red)” Pada gag dong semua, kan? Nhaa,,begitulah kira2 neologisnya orang2 schizophren. Gag ngedongi apa yang dikatakannya.
c. Circumstantiality
Maksudnya adalah… pola pikir yang sangat tidak langsung dan tertunda pada tujuan atau berbelit-belit.
Yg ini contohnyaaa… Waktu di tanya, “Mau ke mana?” Jawabnya, “Saya Fauziah Nur Wahdhani… punya adik satu… hobinya nulis… nulisnya apa aja… yang penting nulis… saya dari kampus… kampusnya di Psikologi UGM… itu loh, kampus 5 jutaan… yang katanya mau diakuisisi sama FEB… padahal ya, sekarang aja juga statusnya kita masih minjem gedungnya filsafat… sekarang ini dari kampus… (halah, malah diomongke meneh) kampusnya di psikologi UGM… (meneh-meneh diomongke meneh) Saya, Fauziah Nur Wahdhani yang biasanya dipanggil Uzzy, kluw di rumah panggilannya Dhani, kluw di SMP 9 dulu panggilannya paling beragam dari Fafa-Fauz-Fauzi-Zia-Zia2-dst… mau pulang.”
Hal yang tersebut di atas adalah CONTOH. sekali lagi cuman CONTOH. ingat ya… CONTOH. Apa, teman-teman? C.O.N.T.O.H. Jangan lupa loh… hanya CONTOH.
d. Clanging
Maksudnyaaaa… pola bicaranya didasarkan pada bunyi bukan arti.
Contohnyaaa… maunya ngomong “Kuliah di fakultas Psikologi sangat menyenangkan!” Jadinya… “Kuliahi di pikologi sangati menyenangkani.” Kira-kira seperti itu, lebih mementingkan kesamaan bunyi dan cenderung mengesampingkan arti.
e. Blocking
Maksudnyaaa… berbicara yang tiba-tiba mandheg di tengah pembicaraan.
Contohnyaaa… “Waktu itu saya melihat banyak sekali orang yang memakai baju warna kuning-hitam-putih. Itu lho, yang bersih peduli profesional dan terus melayani. Nah, tiba-tiba di sana terjadi…. (berhenti tiba2—red)”
Kira-kira seperti itu, teman2….
>>DELUSI<<
Artinya, keyakinan yang salah. Ada berbanyak jenis delusi tapi yang saya mau saya ambil contohnya adalah delusi grandeur (merasa sebagai orang besar). Misalnya nih ya… Fauziah Nur Wahdhani adalah mahasiswa psikologi UGM tapi dia juga [merasa] titisan Rabiah Al-Adawiyah (haiyoh, padahal Rabiah adalah seorang sufi yang suci).
Nhaaa… intinya yang gitu2 deh. Merasa sebagai titisan dewa, titisan dewi, titisan nabi, etc. Dan sekali lagi, contoh yang tsb di atas adlh sekadar CONTOH. Sekali lagi cuman CONTOH. ingat ya… CONTOH. Apa, teman-teman? C.O.N.T.O.H. Jangan lupa loh… hanya CONTOH.
>>HALUSINASI<<
Artinya adalah… persepsi yang tidak ada objeknya.
Contohnyaaa… mendengar suara profokatif dalam pikiran, melihat tembok bisa ngomong, bisa berkomunikasi dengan artis via TV, melihat pocong padahal objek yang dilihat adalah temannya sendiri, dlsb.
.
.
Nhaaa… begitulah kira2 sedikit saja poin seputar schizophrenia. Di antara gejala2nya adalah seperti yang tersebut di atas, gejala lainnya msii banyak. Mengenai penyebabnya, bisa karena beban pikiran yang terlalu berat shg tak mampu membedakan maya dan realita. Mengenai kesembuhannya, ada yang bisa sembuh total, ada yang sembuh-kambuh, ada pula yang sama sekali gag bisa sembuh.
.
Mau belajar ttg schizophrenia dgn lbii asyik n menarik? Bisa tuh, nonton pilem Beautiful Mind, salah satu film paling inspiratif bwd uzzy. Dalam film itu diceritakan kisah John Nash, jenius matematika peraih nobel thn 1994 yg ternyata adalah seorang schizophren! Yah, silakan nonton… insyaAllah byk ilmu yg didapat dari film itu….
.
Info lbii lanjut ttg schizophrenia juga dapat dilihat di:
Melalui perspektif statistika tentunya…. Seseorang dikatakan menyimpang (abnormal) jika terletak pada daerah ekstrim dalam kurva lonceng, baik itu di ujung kanan maupun ujung kiri. Misalnya orang imbisil yang berada di ujung kiri kurva IQ.
>> Feeling discomfort as abnormality/personal distress (ketidaknyamanan thd keadaan abnormalnya/tekanan dlm diri)
Misalnya munculnya ketakutan yang berlebihan dan tak beralasan (phobia), kecemasan, depresi, merasa sendiri, bahkan dengan symptom fisik seperti pusing dan mual.
>> Breaking the law/violence of norms (pelanggaran norma atau aturan)
Misalnya percobaan bunuh diri, homoseksual.
>> Social unacceptability (tidak diterima masyarakat)
Misalnya pemabuk, pemerkosa.
>> Unexpectedness (sesuatu yang tidak diharapkan)
Misalnya keluarnya keringat dingin saat tampil di depan orang banyak.
>> Disability (ketidakmampuan)
Misalnya pecandu narkoba yang terganggu fungsi kognisinya karena pengkonsumsian obat yang berlebihan.
.
.
.
Nhaaaa,,,yang perlu dikritisi adalah:
Kriteria tsb di atas itu aplikatif di seluruh jagad raya atau normatif? Apakah sifatnya mutlak atau relatif?
Secara teoritis, kelompok yg berada di area ekstrim pada kurva lonceng adalah orang-orang abnormal. Mungkin kita bisa (kalau diperkenankan–red) menganggap imbisilitas sebagai sesuatu yg abnormal. Namun, bagaimana dgn orang yang ber-IQ di atas rata-rata, 150 misalnya? Akankah kita tetap menyebutnya sebagai sesuatu yg menyimpang (abnormal)? Tidakkah lebih bijak jika menyebutnya sebagai jenius? Atau… jenius=abnormal??
>> Feeling discomfort as abnormality/personal distress (ketidaknyamanan thd keadaan abnormalnya/adanya tekanan dlm diri)
Tidak semua gangguan (disorder) mengakibatkan distress. Oke,,, kita bisa menganggap phobia sebagai abnormalitas. But,, bagaimana halnya dengan psikopat yg jelas2 termasuk kategori abnormal? Psikopat mengancam atau melukai orang lain tanpa menunjukkan rasa bersalah atau kecemasan. Juga ternyata,,, tidak semua distress menimbulkan disorder, misalnya sakit yg dirasakan ketika seseorang disuntik… tak berarti orang tsb abnormal kan??^^
>> Breaking the law/violence of norms (pelanggaran norma atau aturan)
Peraturan dan norma siapa yang dijadikan patokan dlm poin ini? Di banyak negara bunuh diri memang dianggap sebagai sesuatu yang mencederai norma sosial. Di sisi lain, ada harakiri yang masih legal di Jepang. Apakah berarti ambang keabnormalan di setiap tempat belum tentu sama??
>> Social unacceptability (tidak diterima masyarakat)
Di berbanyak tempat, masyarakat sepakat untuk mengucilkan penjahat, pemerkosa, dll. In the other hand, di pemukiman imigran yg kumuh… keberadaan orang2 dgn latar belakang kriminal adalah hal yang wajar (lah,,,apakah keberadaan orang2 yang normal menjadi sesuatu yg luar biasa/menyimpang di lingkungan tsb?? –> yg normal jadi abnormal)
>> Unexpectedness (sesuatu yang tidak diharapkan)
Nhaaa,,,yg ini uzzy SETUJU!!^^
>> Disability (ketidakmampuan)
Tidak begitu jelas juga apakah seseorang yang abnormal juga mengalami disability. Misalnya seseorang yang mempunyai gangguan seksual voyeurisme(mendapatkan kepuasan seksual dengan cara mengintip orang lain telanjang atau sedang melakukan hubungan seksual), tidak jelas juga apakah ia mengalami disabilitydalam masalah seksual.
.
.
.
Nhaaaa,,,karena ketidakjelasan ambang batas normal-abnormal itulah, subjektivitas observer juga turut andil dalam menentukan kriteria abnormalitas. Jadi,,tergantung juga bgmn observer tsb memandang suatu keadaan orang, apakah normal/abnormal…yah, tergantung prinsip abnormalitas observer itu lah. Walaopun bu dosen tdk berkata demikian (uzzy memang ngeyel og). Kata bu dosen, yg membuat batasan2 abnormal di setiap tempat tidak selalu sama adalah norma n hukum negara ybs. Jadi, jika di suatu negara ada hal2 yg kita anggap tabu namun tdk dipermasalahkan di sana, maka hal yg semula kita anggap tabu tsb bukanlah hal yg menyimpang (whatt???!!).
.
.
.
Uzzy pun bertanya,
“Bagaimana jika kita yang notabene berstigma bahwa homoseks adalah sesuatu yang menyimpang dari norma sosial, suatu ketika merantau di Amerika atau Belanda yang menghalalkan homoseksual? Apakah prinsip abnormalitas kita harus menyesuaikan dgn kondisi Amerika/Belanda? Maksud saya, apakah homoseksual menjadi hal yang normal2 saja selama kita berada di negara-negara itu..???”
Bu dosen pun menjawab,
“Ya. Lagipula, sebenarnya homoseks bukanlah sesuatu yg abnormal. homoseks adalah bentuk hubungan seks alternatif. Jadi,,it’s OK….”
(whatt???!!! -dgn mata terbelalak- Piye jhe sakjane ki?? Ada hubungannya gag c psikologi dgn sosiologi?? Tadi dibilangnya, yg melanggar norma adl yg menyimpang…Jelas2 hombreng itu mencederai norma sosial,,tp ternyata psikologi sudah sudah punya doktrin sendiri yg ngomong kluw hombreng itu normal. Apakah berarti yg abnormal itu sebenarnya norma sosial ibu pertiwi?? Semakin bingung,,,-_-”)
.
.
.
Mendengar jawaban bu dosen,, jadilah uzzy semakin yakin bahwa memang diperlukan prinsip yang lbi jelas n tegas drpd sekedar konsensus sosial yang ternyata sifatnya relatif u/ menentukan ambang batas normal-abnormal. Agar kita tidak permisif, tdk goyah pendirian.
.
.
.
Nhaaaa,,,ternyata oh ternyata, seperti yg kuduga n kusangka…prinsip terbaik u/ menentukan batasan normal-abnormal adalah,,, (jrereeeeennnggg) AL-QURAN n AL-HADIS. Misalnya, kasus homoseksual. Dalam Al-Quran telah jelas ditetapkan bagaimana hukumnya berhombrengria (QS Al-A’raaf:80-84). Dan tak seperti norma sosial (yea iyalaaahh), Al Quran tdk dibatasi border geografis maupun kultural. Ketetapannya berlaku sepanjang zaman, di setiap derajat bujur n lintang. Tak sama pula dgn perspektif psikologi,,yang ternyata masih byk diperdebatkan, misalnya psikologi barat yang banyak dikritisi oleh psikologi islam. Al-Quran mencakup segala aspek, sifatnya mutlak, n tak terbantahkan.
.
.
.
So,, jadilah muslim yg psikolog bukan psikolog yg muslim, biar kita teguh berpedoman sehingga tak mudah terombang-ambing oleh teori2 yang masih layak u/ dikritisi krn begitu mbingungi. Dan sebaik2 prinsip/pedoman adalah Quran n Hadis.
“Buat apa sih, kita belajar psi kepribadian? Oke,,,kita jadi tau kepribadian kita. Lha njuk ngopo? Trus kalau kita tau kita termasuk ektrovert/introvert, sanguinis/melankolis/pragmatis/koleris… lajeng pripun? Just it?”
. .Pertanyaan di atas muncul saat pelajarannya Bu Diana minggu lalu. Setelah tes kepribadian sederhana (u/menentukan tipe kepribadian kita) yang diberikan Bu Diana sblm kelas dimulai. Hahaha,,,ada yg ucul ternyata. Berdasarkan hasil tes tsb, nilai rata2 keterbukaan seseorang adalah 20 sedangkan skor uzzy adl 46! wuuuussshhh,,,sgt extrovert, mgkn kluw dyZ bakalan bilang “tak punya privasi“. Tp klu kata Galih kmrn,itu cuma pengaruh hormon (???). Yah, smwg yg bener omongan e Galih meskipun ngambang maksudnya, lha wong saia juga merasa msi punya area pribadi yg hny diri saia n Allah saja yg mengetahui (mode ‘berdalih’ on). .
. .back to the personality psy. Stlh tes itu,,,saia jadi bertanya2 knapa c kita butuh bljr ttg kepribadian? msa c 1 semester bljr macem2 kepribadian thok?? Lha njuk pripun stlhnya?? udah gt ajjah. .??
. .Nhaaaa,,,sepertinya Bu Diana bisa membaca pikiran saia. maklumlah, satu almamater gietoh! (ha njuk ngopo ngono??) Trus Bu Diana ngendika:
“Kemarin saya dan Bu Shofi didatangi ibu2 yang bingung. Putrinya mencoba bunuh diri tapi gagal (Loh,gagal bunuh diri malah bingung?? pengen anaknya berhasil suicide ya, Bu?? –red). Jadi critanya, si anak habis ditinggalkan sang kekasih. Lalu menenggak berpil-pil obat yg membuatnya OD. untunglah tidak sampai meninggal………(dst–red)”
Intinya… si anak lalu masuk rumah sakit yg kata mas firman adlh rumah menuju sehat. Nhaaa,,, Bu Diana n Bu Shofi awalnya mempunyai prejudice kalau si anak ini pastilah introvert. Tapi…. tak terduga n tak tersangkakan oleh siapa2,,, ternyata tidak, Saudara2. setelah ngobrol2 dgn sang ibu… diketahuilah kalau ternyata si anak gadis adalah tipe extrovert. Dan aksi percobaan bunuh dirinya adalah ekspresi kemarahannya. Dan dari ibunya pula, didapatkan informasi bahwa ternyata bapaknya si anak (suaminya si ibu) adlh seorang betrayer (selingkuh–na’udzubillahi mindzalik!–red). Selain itu,,, si anak adlh tipikal gadis ceria n terbuka biasanya. Bukti yg memperkuat hasil analisa bu shofi feat. bu diana klw si anak adlh seorang extrovert. Dari analisa itu pula, akhirnya 2 dosen tercinta di psikologi itu memutuskan u/ memberikan treatment yg sesuai dgn distresssymptom-nya org2 extrovert (bc: marah).
Dari penjelasan bu diana itulah uzzy menarik kesimpulan,,, salah satu tujuan mempelajari psi kepribadian adl agar kita dpt memberikan treatment yang tepat pada seseorang sesuai dgn kepribadian dan kebutuhannya. seperti kasus anak gadis di atas tadi. tentunya, setelah mengetahui secara pasti kepribadian si anak, treatment yg diberikan pun akan sesuai dgn kebutuhannya. coba bayangkan, misalnya bu diana n bu shofi tdk menindaklanjuti prejudice mereka ttg ke-introvert-an si gadis, dan tetap mempertahankan prasangka mereka kalau tindakan si gadis adlh bentuk depresi seorang gadis introvert. Tentu treatment yg diberikan akan melenceng dari kebutuhan si gadis, bukan meredakan amarah..justru meng-up-kan self esteem (harga diri) si gadis. padahal si gadis sedang tdk butuh penaikan harga diri. Untungnyaaaa,,, Bu Diana n Bu shofi sudah ahli. jadi treatment yang diberikan pas u/ si gadis….^^
Itu baru salah satu manfaat mempelajari psi kepribadian s.d. pertemuan ke-2 kmrn. yah,,,smwg semakin byk ktemu bu diana,,,smkn byk pengetahuan ttg kepribadian yg uzzy dpt. untuk kemanfaatan ummat….^^