BULAN MERAH JAMBU
Malam merayap lambat. Bulan purnama menggantung di atap dunia. Di sekitarnya gerlap gemintang tersemat. Langit di penghujung malam tampak kelam tapi cantik. Anggun.
Aku takut gelap. Aku takut langit malam. Walaupun cantik! Meskipun anggun! Semesta yang hampa. Tak ada suara. Yang tersisa hanya indah yang mati ternetra, bisu tanpa kata-kata. Suasana yang mengingatkanku pada kematian. Aku tak mau mati. Aku tak ingin sendiri. Ditemani sematan-sematan hiasan langit pun aku tak sudi mati! Mereka tak bisa kuajak berbagi karena mereka punya kehidupan sendiri. Hidup dalam mati.
Kematian mengingatkanku pada percakapan umi dengan Bu Dokter sepuluh tahun silam.
“Bagaimana, Dok?”suara umi terdengar harap-harap cemas.
“Paru-paru basah,”jawab dokter singkat.
Kulihat mata umi berselaput pecahan-pecahan mozaik bening. Air matanya hampir tumpah.
“Tapi Rena baru lima tahun,”umi protes.
Pak Dokter tersenyum samar.
“Masih ada harapan kan, Dokter?”kejar umi.
“Tentu saja, Bu. Yang penting Rena tidak boleh terlalu lelah. Makan dan istirahatnya harus cukup dan teratur.”
Kuperhatikan raut wajah umi. Kurasa umi ingin menangis. Umi memandangku syahdu. Umi tidak menyadari kalau percakapan barusan telah kurekam dalam memori dan akan tetap tersimpan hingga kemudian hari.
Sejak percakapan itu umi jadi sering menangis. Abi juga ikut-ikutan. Aku sering mengintip mereka menumpahkan air mata ketika salat malam. Tak tahu kenapa.
Gendang telingaku yang peka terhadap suara membuatku sering terjaga. Apalagi ruang tidur kami bertiga menyatu dengan tempat salat.
Hingga tiba suatu masa di mana umi bercerita pada rekannya kalau aku punya kakak yang telah meninggal dunia. Kata umi, waktu itu aku belum ada di dunia. Sama sepertiku, kakakku menderita paru-paru basah. Sejak saat itu aku pun tahu apa yang membuat umi dan abi menjadi cengeng di penghujung malam.
Seribu masa malam bertandang, seribu masa malam hilang. Usia delapanku telah lalu. Aku masih sering diajak umi berkunjung ke rumah Bu Dokter. Kalau tidak ke rumahnya, pasti kami bermain ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Sore harinya kulahap waktu dengan mengaji di TPA dekat rumah. Di sana aku mulai tahu rahasia di balik salat malam.
“Adek-adek, ada yang tahu apa itu salat malam?”tanya Kak Silvi, guru mengaji kami.
“Salat yang dikerjakan malam-malam, Kak!”jawabku tanpa malu.
Kak Silvi mengulum senyum.
“Benar,”jawabnya.
“Lalu apa bedanya dengan salat Isya’?”tanya Ida, teman akrabku.
“Ada yang tahu?”Kak Silvi melempar pertanyaan Ida pada kami.
Semua saling pandang. Diam.
“Baiklah kalau belum ada yang tahu. Jadi, salat malam itu dikerjakan sesudah salat Isya’. Waktu yang paling utama untuk mengerjakannya adalah sepertiga malam terakhir. Ya… sekitar jam dua sampai jam empat atau sebelum Subuh,”terang Kak Silvi.
“Pahalanya gede ya, Kak?”tanyaku lagi pada Kak Silvi.
“Iya! Bahkan lebih istimewa dari dunia seisinya,”jawabnya.
Sepulang dari TPA, niat untuk mendirikan salat malam pun mencuat dalam diri.
“Umi, nanti malam Rena ikut salat malam, ya?”pintaku pada umi yang sedang sibuk menyiapkan makan malam.
Umi menghentikan aktivitasnya. Tatapan lembutnya diselimuti perasaan heran.
“Rena ingin dapat hadiah istimewa dari Tuhan,”terangku sebelum umi sempat berkomentar.
Umi tersenyum. Dilepaskannya jilbab lucuku begitu melihat peluh menyembul dari pori-pori dahiku.
“Boleh,”jawab umi pendek.
Hingga kini, ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun, hadiah-hadiah istimewa Tuhan selalu kupinta. Dan Tuhan selalu mengabulkannya. Dia berikan bulan merah jambu selalu, pada sepertiga akhir malam.
Malam yang sama seperti biasanya. Kutunaikan hak Tuhanku di ujung malam. Tepat di depan hamparan sajadah, berdiri dinding kokoh kamar yang di bagian atasnya ada ventilasi terbuka. Namun jarang sekali kuindahkan lubang udara itu. Lubang udara itu selalu menunjukkan kehidupan langit malam yang diam. Mati. Sendiri. Mengingatkanku pada maut yang siap merenggut jiwa-jiwa makhluk.
Bulan merah jambu kembali mengunjungiku. Sekarang sedang bersemayam tenang di balik kelambu harapan yang menghiasi ruang kecil di balik tulang iga, yang kurajut perlahan sejak lama. Cubitan-cubitan nakal atmosfer malam menggelitikku, membantuku mengusir gelayut kantuk yang sedari tadi bermanja dalam kelopak mata. Satu nikmat-Nya kembali kurasa. Bulan merah jambu tetap di tempat yang sama.
Kain bersahaja terhampar di hadapan, menunggu waktu yang tepat untuk bercumbu dengan dahiku. Dan ketika tegakku terpenuhi, inginnya pun kupenuhi. Keduanya bermesraan di balik hati yang penuh kerendahan. Bulan merah jambu tak mau beranjak dari persemayaman.
Detik seakan lesap dari rute yang seharusnya dititi dalam tetap. Namun itu semua hanya ada dalam tatap rasaku. Inginku malam tak merayap lagi agar bulan merah jambu selalu di hati. Realita lain bercerita. Panggilan Subuh menggema, menyamarkan wujud bulan merah jambu. Hilang digantikan kesibukan duniawi yang menanti. Aku menangis. Rindu bulan merah jambu. Kutunggu ujung malam bertandang lagi.
Begitulah. Kujalani hari-hariku. Mendapati bulan merah jambu datang lalu pergi dan kembali kunanti kehadirannya.
Usiaku menginjak angka sembilan belas. Salat malam masih menjadi momen terindah. Bulan merah jambu pun senantiasa menemani sujud-sujudku di penghujung malam. Hingga suatu hari kulihat bumi berputar begitu kencang. Tak ada lagi daya yag tersisa untuk menopang badan. Aku ambruk. Sesak menjerat. Keringat dingin mendesak-desak dari dalam kulit. Dan kusadari itulah akhir dari ceitaku. Mati yang kutakuti pun menyapa.
Tak lama setelah air mata umi dan abi terkuras serta badanku ditelan bumi kulihat bulan merah jambu datang perlahan. Dalam dekapan takut aku terheran-heran.
“Apa kau akan meninggalkanku lagi?”tanyaku dalam cemas.
Bulan merah jambu menggeleng.
“Mulai saat ini aku akan menemanimu selalu,”jawabnya.
“Janji?”tantangku.
“Demi Allah yang menggenggam jiwa-jiwa manusia,”ujarnya lagi.
Segera kupeluk bulan merah jambu yang kini kutahu bahwa salat malamku lah yang telah mejadikannya dan akan menemaniku selalu di sini. Di kehidupan yang indah setelah kematian, yang jauh lebih indah dari anggunnya malam. Dan yang terpenting, di sini tidak ada diam.
assalamu’alaykum de’ uzzy…
hayo2..masih inget gak??
weh…jago bikin cerpen rupanya..
layoutnya oke ni de’..
keep on writing…
. .wa’alaikumsalam, mb Pansus saia! hheee…mana bisa saia tidak ingat. .??
. .syukron mb,,,atas mampirnya ke blog ini…gag nyangka nih!^,^
. .yah, bru belajar nulis2 fiksi yg tak sekedar basa-basi n mengandung arti…^^ layoutnya oke??? hhee,,,yg pny blog kayak e lbi ok deh mb. . :p
. .yeap,,kip wraiting because THE WORLD IS RULED BY NEWS –> jargonnya sigma, yg selalu terkenang sepanjang masaaaaaa
alooooow salam kenal
apa kabar
aku nunut baca2 nich asyiiiiiiiiiiik banget blognya
tuker link bisa?
kalo berkenan kabari aku ya
tx
@shalimow.com : salam kenal…:D
kbar baiiig… trima ksii atas keasyikannya baca blog saia. silakan ngelink…^^