BERSYUKUR UNTUK APA YG TAK DIMILIKI
. .bismillah. .
.
Bersyukur. Satu poin besar dalam hidup. Bahkan, disandingkan dengan sabar, Umar bin Khattab memilihnya menjadi kendaraan hidup. Umar tak peduli yang mana yang akan dikendarainya, baginya sama saja.
Andaikan sabar dan syukur
Adalah dua tunggangan
Aku jadi tak peduli
Mana yang harus kukendarai
–Umar bin Khattab–
(dikutip dari Jalan Cinta Para Pejuang)
Saya sengaja meluangkan waktu untuk menulis hal ini untuk mengingatkan diri saya sendiri khususnya, juga pada teman-teman. Saya merasa sangat malu beberapa hari ini, pada-Nya.
Beberapa hari lalu saya menonton salah satu tayangan TV, sebuah reality show, yang mana menceritakan kehidupan seorang ibu rumah tangga. Kisahnya, suaminya kini menjadi suka main tangan dan sering bermain wanita tanpa tedheng aling-aling. Hal ini bermula saat toko kelontong mereka yang tadinya laris manis diserbu pembeli ludes dilalap si jago merah. Akibatnya, kondisi keuangan keluarga carut-marut dan sang suami sepertinya sangat depresif hingga mencari pelarian PSK dan amarahnya sering tak terkendali. Yang membuat lebih miris adalah kondisi anak si ibu, sebut saja N. Kabarnya, suami dari si ibu ini hendak menjual N untuk menambah pemasukan keluarga. Dan si ibu meminta tolong pada kru TV ybs untuk mencegah aksi b**at suaminya. Ia tak ingin pengalaman pahitnya terulang lagi. Dulu, anak pertamanya juga pernah dijual-belikan kehormatannya hingga akhirnya bunuh diri karena depresi.
Rasa iba saya sudah mulai mirih sejak si ibu menceritakan kisah hidupnya. Terlebih, ketika menceritakan kondisi anak-anaknya. Saya serasa tertampar, tertohok, dibangunkan dari buaian kehidupan diri saya sendiri. Betapa sampai detik sebelum saya menyaksikan tayangan itu, saya masih ber-hahahihi ria..
Entahlah. Saya hanya merasa tertohok. Betapa di luar sana ada orang-orang dnegan kondisi yang tak bisa saya bayangkan jika menimpa saya. Betapa di luar sana ada orang-orang gigih nan kuat yang berjuang sangat untuk kehidupan keluarganya, untuk anaknya. Hmmmfff… dan saat itulah rundungan rasa malu menyergap batin. Betapa saya… yang kehidupannya jauh lebih mudah daripada yg dialami ibu tsb, jarang sekali mensyukuri karunia-Nya. Saya jarang mengeluhkan hidup saya… namun jarang juga saya berterima kasih pada Allah atas kehidupan saya. Tadinya, saya pikir kehidupan saya juga dimiliki oleh banyak orang di luar sana. Everything are special but everyone have it’s special, so nothing’s so special. tadinya saya berpikir seperti itu. Hingga akhirnya tohokan dari tayangan TV itu benar2 menggugah saya. Astaghfirullahal’adzim… betapa banyak hal-hal yang tak saya miliki dan seharusnya saya syukuri. dan tentu saja implikasi rasa syukur kita tak hanya berhenti pada titik malu yang buncah. Aksi nyata kita, apapun wujudnya, untuk orang2 yg memiliki apa yg tak kita miliki akan sangat berarti… dan tentu saja, meningkatkan valensi syukur kita…^^
Hmm…aq nduwe perasaan nek reality show ne REALIGI yoh?
inisial N nya itu kepanjangan dari nur wahdhani ya??
ada banyak sisi kehidupan yang bisa kita perhatikan…
ada syukur dan ada syabar…
alhamdulillah juga gak menimpa saia…
kalo liatnya “ke atas” bikin kesandung ya de’..
–maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang kamu dustakan?–
@MasUd: ssstt… jgn bilang2 to mas…. ntar pada tau kluw acara yg saia tonton memang realigi…. hhehee…
.
@nadia: bukan og, Nadia ketoke malahen….xp
.
@kerlip: ciph! 3S, mb pansusku! Sangat Setuju Sekali… kerap kali kita terjebak melihat ke atas dgn niat awal u/ memotivasi diri, namun yg ada justru ‘terlalu’ shg rasa syukur itu pun berlalu….