uzzy.web.id

Menembus Batas Semesta Kata

PARENTING: PD-kan ANAK biar HEBAT dan BERKARAKTER KUAT!!

January24

.bismillah.

Dunia anak tak ada matinya. Selalu ceria dan menceriakan. Ibaratnya awan, putih bersih tanpa noktah hitam setitik pun. Apapun tentang anak, selalu menggairahkan. Kelucuannya, keluguannya, kecerdasannya. Harapan ttg mereka.. J

50 tahun yg akan datang…

Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara di Mesir hingga Amerika, dari Makkah Al-mukaramah hingga Barcelona. Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan, sehingga kota-kota yg pd zaman keemasan Islam yg terang berderang oleh cahaya-Nya, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istanbul hingga Shenzen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang. Sementara siangnya mereka spt singa kelaparan yg bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dgn keringat krn kerasnya mereka bekerja meski segala fasilitas tlh mereka dapat, sementara pd malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dgn air mata krn besarnya rasa takut kpd Allah Ta’ala. Rasa takut yg bersumber dari cinta dan taat kpd-Nya.

Begitu Pak (sbnrnya pgn manggil ustad tp beliau tdk suka dipanggil ustad) M. Fauzil Adhim menuliskan harapannya dalam bukunya Positive Parenting. Dan saya kira berbanyak muslim lain jg memiliki harapan senada dgn Pak fauzil. Dan tentunya utk mendidik seorang bocah polos yg saat lahirnya belum bisa membedakan baik dan buruk mjd sosok besar ketika dewasa kelak, tidak semudah menjentikkan jari tengah dengan ibu jari. Sosok yg besar, tdk selalu lahir dari keluarga wah dgn fasilitas2 super mewah. Walaupun, tdk bisa dinafikan juga kemungkinan munculnya tokoh besar dari keluarga yg memang sudah mempunyai nama besar spt Pak Anies Baswedan (heart_beat).

Yg membedakan mereka dgn orang2 lain adalah KARAKTER, begitu ungkap Pak fauzil lebih lanjut dlm buku tsb. Orang hebat berkarakter kuat, sudah menjadi semacam hubungan mutlak. Lalu, bagaimana menumbuhkan karakter kuat dlm diri anak-anak shg nantinya ia mampu mjd sosok yg berpengaruh besar bagi lingkungannya? Salah satu poin pentingnya adalah ttg : kepercayaan diri. Dlm bahasa psikologis kita mengenalnya sbg self-confidence (sakjane bahasa inggris ya…), yaitu kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan (Thantaway, 2005). Banyak orang tua yg kurang faham pentingnya menumbuhkan kepercayaan diri pada anaknya dan tidak sedikit orang tua yg faham urgensinya namun salah dlm aplikasi. Salah satu contohnya adalah apa yg disebut Pak fauzil sbg pseudo self-confidence. Ya, kepercayaan diri semu. Anak-anak dididik utk memiliki kepercayaan diri ketika tinggal di rumah megah, HP-nya mewah, uang saku berlimpah, ataupun memakai pakaian dengan merk yg wah. Mereka percaya diri hanya jika ada hal-hal atau benda-benda yg dapat membuat mereka “terangkat”. Mereka akan datang dgn malu-malu bila barang2nya lusuh dan segera PD lagi ketika dapat ganti yg baru. Org tua menanamkan nilai PD means modern. Akibatnya, mereka percaya diri hanya pada kondisi2 tertentu.

Kesalahan pola didik org tua seputar penumbuhan kepercayaan diri anak adalah penanaman nilai percaya diri karena orang lain memiliki kelemahan/kekurangan. Si anak percaya diri krn memiliki keunggulan yg org lain di sekitarnya tdk mempunyainya. Sikap ini sgt dekat dgn sombong (na’udzubillahi mindzalik). Si anak akan tumbuh mjd sosok yg tdk berkutik thd org2 di atasnya dan menepuk dada di hadapan org2 yg lbh rendah. Org tua menanamkan nilai ini melalui klmt semacam, “Kamu nggak usah malu. Temanmu yg pakai baju lebih lusuh kan banyak. Yg pakai sepatu jelek juga banyak. Kalau temanmu sepatunya bagus-bagus, kamu malu gak papa. Lah wong ini sepatumu bagus sendiri di antara tmn2mu kok ndadak malu.”

Masih ada beberapa jenis kepercayaan diri hasil dari pola didik yg salah org tua. Yg jelas, poin penting di sini adalah bgmn memurnikan kepercayaan diri dalam diri anak, agar tdk tergantung situasi maupun kondisi yg bersifat semu. Dan dlm buku tsb pak fauzil mengemukakan solusi yg sgt jitu yaitu khutbah terakhir Rasulullah SAW di masjid Khaif, Mina:

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin adalah bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yg plg mulia di sisi Allah ialah yg paling taqwa. Tidak ada kelebihan org Arab di atas org asing kecuali krn taqwanya….”

Yes. Cuckuplah menanamkan pengertian ini kepada anak sejak dini, memahamkannya hingga merasuk di hati. Jika sudah terwujud, insyaAllah tidak ada lagi rasa minder maupun inferi krn alasan materi dan keduniawian lainnya. Dan oh kawan, tidakkah kau merindukan anak-anak kita kelak menjadi sosok karismatik dgn penuh kepercayaan diri dlm mengemban amanahnya sbg khalifah di muka bumi? mereka tidak takluk pada dunia krn dunia yg akan tunduk padanya. Mereka tidak akan merengek-rengek minta fasilitas mahal hanya utk mendongkrak kepercayaan diri mereka karena telah ada rasa cukup dalam diri mereka atas ketaqwaan dalam hati yg telah diajarkan kedua orang tuanya sejak dini. saya merindukan generasi itu… di mana ada jiwa-jiwa mus’ab bin umair yg terhunjam walau dalam raga yg tak sama. Atau keteguhan abu dzar al-ghifary, sa’ad bin ubadah, bahkan kombinasi ketiganya. Saya sangat merindukannya… (cry)  dan kukira kalian pun sama.

Trus, langkah konkretnya gimana dong? Ow ow,, silakan baca sendiri ya di bukunya pak fauzil adhim. Lengkap kap kap kap pokokmen. Mulai dari memilih buku bergizi utk anak dlsb dst. Kalau ditulis di web akan sgt pjg sekali… (goodluck) jd ingat lg kata seorang ustad, “Persiapkan pendidikan anak sejak 25  tahun sblm kelahirannnya!” Untuk anak-anak yg luar biasa, persiapannya tentu tdk biasa. Bersemangat belajar parenting sejak kini! (rock)

January5

.bismillah.

“Kondisi meninggalnya seseorang tergantung kebiasaannya semasa hidup.”

[Imam Ghazali]

.

Saya bergidik ketika mendengar Ust. Salim A. Fillah mengutip kalimat tsb di salah satu edisi KRPH. Ditambah contoh2 nyata yang beliau utarakan,,, astaghfirullah… bgmn dgn saya kelak?

Dan pikiran saya seketika tertuju kpd sosok yg berkarisma itu. Almarhum, tepatnya. Seorang pensiunan veteran yg meninggal sktr 10 tahun lalu pada hari Jumat ba’da shubuh, hari terakhir di bulan Ramadhan.

Subuh kala itu, istrinya mengguncang-guncang tubuh yang sudah tua itu, berusaha membangunkannya. Sosok itu hanya bergerak tanpa mengeluarkan suara. Sang istri mengira suaminya msh terlelap krn pengaruh obat. Saat itu sang suami memang sedang dalam masa pengobatan penyakit stroke. Akhirnya sang istri pun berkata lembut, “Ya sudah. Saya ke masjid dulu ya, Pak.”

sepulangnya dari shalat Shubuh berjamaah di masjid, sang istri kembali menengok sang suami di kamarnya. didapatinya sang suami tengah berbaring dengan tangan menggenggam tasbih, posisi berdzikir. sang istri mendekat dan menggamit lengan suaminya.

“Pak, Shubuh dulu, Pak.”

Tidak ada respon. Diguncangnya perlahan tubuh orang yg dikasihinya itu, tetap tidak ada respon. Mulai panik, guncangan itu semakin keras. tetap tidak ada respon. Sang istri segera berlari keluar rumah, menuju rumah anak ketiganya yang berada tepat di depan rumahnya.

Napa, Mbok?“tanya si anak begitu membukakan pintu.

Kae, bapakmu ta’gugah kok meneng wae…,“jawabnya dengan suara bergetar, menyiratkan kekhawatiran.

keduanya pun bergegas menuju kamar yg berukuran kecil itu. si anak segera memegang tubuh ayahnya. dingin. diletakkan jari telunjuknya di depan hidung sang ayah dan ia mendapati tidak ada hangatnya nafas.

Bapak sampun mboten wonten, Mbok. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…,”kata sang anak hati-hati.

tubuh ibunya melemas. air matanya leleh.

Siang harinya, sebelum jenazah sosok itu dimakamkan, seorang pemilik Pondok Pesantren dan STIQ (Sekolah Tinggi Ilmu al-Quran) di lingkungan itu berbicara di depan para pen-ta’ziah.

-to be continued. yg ditunggu sudah selesai urusannya- ^^v

BALI BERCERITA

December21

.bismillah.

Tuliskan impian di atas kertas karena menuliskan di pikiran sama dengan memutuskan untuk lupa pada akhirnya

.

1 dzulhijjah 1430 H, 19 oktober 2009. tangan ini menggoreskan pena di atas kertas:

49. Menapakkan kaki di pantai pasir putih Bali

Ya. sebuah impian sederhana bagi sebagian besar orang. namun tidah begitu bagi saya. seumur-umursaya belum pernah ke pulau dewata, seisi rumah yg belum pernah ke sana hanya saya.

Ba’da Maghrib,  8 Desember 2009. Tawaran ke bali datang dari Mb Yanti psi 07. dengan ridha bunda dan ayah, saya terima tawaran travelling ke pulau dewata 10-14 Desember 2009. dalam bayangan saya hanya satu : satu impian lagi yg akan segera kucoret!

namun memang rencana Allah selalu lebih cantik drpd apa yg mampu direncanakan manusia. Allah memberi saya kesempatan ke bali, tdk semata menapakkan kaki di pantai pasir putihnya tanpa makna. tiga hari di sana, menjadi fasilitator training indoor mhs psi udayana, fasilitator seminar parenting, serta fasilitator training sederhana utk anak2 panti asuhan Permata Hati, insyaAllah dalam rangka kemanfaatan. gratis, dapat sangu pula. hehee…. bersyukur, sangat berterima kasih pada Allah atas tiga hari yg sangat memesona hatii… (worship)

.

Jumat, 11 Desember 2009 -AMT “Becoming Excellent Students” utk Mhs Psi FK Udayana- (banana_rock)

bonus: dinner di pinggir jalan, di bali pun maemnya warung jkt… (doh)

.

Sabtu, 12 Desember -Seminar Parenting “Mengembangkan Kepribadian Anak dgn Memanfaatkan Lingkungan Sekitar”

bonus:

sunrise @ Sanur (tercoret sudah, no 49 itu! alhamdulillah…)

shopping @ Pasar Sukowati 2 (boros2an biar beres semua pesanan.. (money) )


shopping lagii @ Joger (masn yg di blkg saya bilang, “Itu yg pake jilbab  diawasi!” sayang bilang,”Awas mas, bom di dompet saya ntar njeblug loh!” (annoyed)  )

*foto belum saya kopii ke kompii*

sunset-an dan romantic dinner @ jimbaran (besok kalok udah punya anak mw ke sinii lagii… (funkydance) )

foto-foto @ Museum Perjuangan Balii B-)

*foto belum saya kopii ke kompii*

.

Ahad, 13 Desember 2009 -Semacam training ringan utk anak-anak Panti Asuhan Permata Hati-

*foto belum saya kopii ke kompii*

bonus:

belanja lagi di Sukowati 1 (membelikanygkmrnblmterbeli)

*foto belum saya kopii ke kompii*

.

Senin, 14 desember 2009 pukul 06.29 WIB -Sampai di jogja dgn selamat-


.

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Bersyukur pada-Nya dan orang tua. Untuk bunda dan ayah yg senantiasa mendoakan keberkahan dalam setiap aktivitas saya, sungguh ini semua tidak lebih dari refleksi pahala engkau berdua… (cozy)

.

Dan sekarang, menuju impian no 5, 9, dan 51! Bismillahirrahmanirrahim… (worship)

SEBUAH KISAH SEBUAH CERITA (versi uzzy)

December14

.bismillah.

.

“Aku heran mengapa ingatanku tertuju kepada mereka.

Kuajukan pertanyaan pdhl mereka ada di sisiku.

Mataku mencari pdhl mereka ada di kehitaman mataku.

Hatiku merindu padahal mereka ada di antara tulang iga.”

~Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah~

.

.

Mereka. Yang terkasih. Yang terlantun dalam setiap untai doa. Yang menggulirkan bulir-bulir air mata. Pun yang mengurai tawa.

.

Maka salahkah aku Tuhan, ketika gejolak hati ini bergolak, saat dia hendak berpindah benua. Bukan, Tuhan! Sungguh aku bahagia untuk capai asanya, rekah senyumnya adalah pelepas sesak dalam dada. Namun Engkau lebih tahu Tuhan… tentang kelekatan kami, tentang hati-hati kami, tentang kerapuhanku. Setahun tanpanya… (tears)  Kalaupun mampu untuk memilih, tentu akan kuenyahkan ego ini. Namun kehilangan itu tetap bersemayam di balik tulang iga.. (tears) Tuhanku, bukankah Engkau memaklumi kelemahanku? dan Engkau akan menguatkanku, begitu kan seperti janji-Mu dlm kitab-Mu? (tears)

.

Lalu salahkah aku Tuhan, ketika aku menangisi keputusannya untuk mendiamkanku? (tears) Mereka bilang ini utk kebaikan kami berdua, dan aku harus belajar memahami jalan yg ia pilih. Sedangkan ia, berkata inilah jalan kedewasaan kami, karena hidup tdk hanya utk bersenang-senang. Oh Tuhan, beginikah arti dewasa? Sungguh aku tidak ingin menjadi dewasa jika seperti ini adanya! Salahkah aku Tuhan, jika ingin membuat hidup lebih menyenangkan? mereka bilang aku labil, lalu kenapa tdk membantuku untuk menjadi stabil dan justru membuatku semakin fragile? Tersenyum, tertawa, jika itu mampu mampu menghiburku namun justru melukainya, maka ajari aku Tuhan untuk menjadi saudara yang mampu memberikan peran terbaik untuknya… (tears)

.

Dan salahkah aku Tuhan, jika sering menangis karena dan untuk ketiga yang lain? jika memang salah, ketika kuanggap senyumnya adalah bahagiaku yang karenanya diamnya merupa kecewaku… ampuni aku Tuhan. kalau memang benar, semua telah berubah dan aku tdk mampu mempertahankan, maka kuatkanlah hati ini Tuhanku. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu isi hatiku… (tears) (tears) (tears)

.

~lebaiy mode on. kalok mauk nyalahin, tuh salahin si HORMON…!!!~

“Aku heran mengapa ingatanku tertuju kepada mereka.

Kuajukan pertanyaan pdhl mereka ada di sisiku.

Mataku mencari pdhl mereka ada di kehitaman mataku.

Hatiku merindu padahal mereka ada di antara tulang iga.”

~Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah~

Mencoba berbagi “tohokan”, setelah saya tertohok duluan oleh artikel ini…;)

November26

JIKA NABI MUHAMMAD DATANG KE RUMAHMU

Jika Nabi Muhammad SAW datang ke rumahmu, untuk meluangkan waktu sehari dua hari bersamamu, tanpa kabar apa-apa sebelumnya, apakah yg akan kau lakukan untuknya?

Akankah kau sembunyikan buku duniamu, lalu kau keluarkan dgn cepat kitab hadits di rak buku?

Atau akankah kau sembunyikan majalah-majalahmu, dan kau hiasi meja dgn Quran berdebu?

Akankah kau masih melihat film favoritmu di TV, atau segera kau matikan sblm dilihat sang Nabi?

Maukah kau mengajak Nabi ke tempat yang biasa kau datangi, atau dgn cepat rencanamu kau ganti?

Akankah kau bahagia jika sang Nabi memperpanjang kunjungannya, atau kau malah tersiksa karena byk hal yg harus kau sembunyikan darinya?

Jika Nabi Muhammad ingin menyaksikan,

Akankah kau tetap mengerjakan pekerjaan yang sehari-hari kau lakukan?

Atau kau berkata-kata sebagaimana yang sehari-hari kau katakan?

Akankah kau jalankan sewajarnya hidupmu seperti halnya jika sang Nabi tidak ke rumahmu?

Sangatlah menarik untuk tahu,

Apa yg akan kau lakukan

Jika Nabi Muhammad datang, mengetuk pintu rumahmu

(MaPI No. 1 Tahun II Januari 2001)

« Older Entries