PARENTING: PD-kan ANAK biar HEBAT dan BERKARAKTER KUAT!!
.bismillah.
Dunia anak tak ada matinya. Selalu ceria dan menceriakan. Ibaratnya awan, putih bersih tanpa noktah hitam setitik pun. Apapun tentang anak, selalu menggairahkan. Kelucuannya, keluguannya, kecerdasannya. Harapan ttg mereka.. J
50 tahun yg akan datang…
Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara di Mesir hingga Amerika, dari Makkah Al-mukaramah hingga Barcelona. Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan, sehingga kota-kota yg pd zaman keemasan Islam yg terang berderang oleh cahaya-Nya, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istanbul hingga Shenzen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang. Sementara siangnya mereka spt singa kelaparan yg bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dgn keringat krn kerasnya mereka bekerja meski segala fasilitas tlh mereka dapat, sementara pd malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dgn air mata krn besarnya rasa takut kpd Allah Ta’ala. Rasa takut yg bersumber dari cinta dan taat kpd-Nya.
Begitu Pak (sbnrnya pgn manggil ustad tp beliau tdk suka dipanggil ustad) M. Fauzil Adhim menuliskan harapannya dalam bukunya Positive Parenting. Dan saya kira berbanyak muslim lain jg memiliki harapan senada dgn Pak fauzil. Dan tentunya utk mendidik seorang bocah polos yg saat lahirnya belum bisa membedakan baik dan buruk mjd sosok besar ketika dewasa kelak, tidak semudah menjentikkan jari tengah dengan ibu jari. Sosok yg besar, tdk selalu lahir dari keluarga wah dgn fasilitas2 super mewah. Walaupun, tdk bisa dinafikan juga kemungkinan munculnya tokoh besar dari keluarga yg memang sudah mempunyai nama besar spt Pak Anies Baswedan (heart_beat).
Yg membedakan mereka dgn orang2 lain adalah KARAKTER, begitu ungkap Pak fauzil lebih lanjut dlm buku tsb. Orang hebat berkarakter kuat, sudah menjadi semacam hubungan mutlak. Lalu, bagaimana menumbuhkan karakter kuat dlm diri anak-anak shg nantinya ia mampu mjd sosok yg berpengaruh besar bagi lingkungannya? Salah satu poin pentingnya adalah ttg : kepercayaan diri. Dlm bahasa psikologis kita mengenalnya sbg self-confidence (sakjane bahasa inggris ya…), yaitu kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan (Thantaway, 2005). Banyak orang tua yg kurang faham pentingnya menumbuhkan kepercayaan diri pada anaknya dan tidak sedikit orang tua yg faham urgensinya namun salah dlm aplikasi. Salah satu contohnya adalah apa yg disebut Pak fauzil sbg pseudo self-confidence. Ya, kepercayaan diri semu. Anak-anak dididik utk memiliki kepercayaan diri ketika tinggal di rumah megah, HP-nya mewah, uang saku berlimpah, ataupun memakai pakaian dengan merk yg wah. Mereka percaya diri hanya jika ada hal-hal atau benda-benda yg dapat membuat mereka “terangkat”. Mereka akan datang dgn malu-malu bila barang2nya lusuh dan segera PD lagi ketika dapat ganti yg baru. Org tua menanamkan nilai PD means modern. Akibatnya, mereka percaya diri hanya pada kondisi2 tertentu.
Kesalahan pola didik org tua seputar penumbuhan kepercayaan diri anak adalah penanaman nilai percaya diri karena orang lain memiliki kelemahan/kekurangan. Si anak percaya diri krn memiliki keunggulan yg org lain di sekitarnya tdk mempunyainya. Sikap ini sgt dekat dgn sombong (na’udzubillahi mindzalik). Si anak akan tumbuh mjd sosok yg tdk berkutik thd org2 di atasnya dan menepuk dada di hadapan org2 yg lbh rendah. Org tua menanamkan nilai ini melalui klmt semacam, “Kamu nggak usah malu. Temanmu yg pakai baju lebih lusuh kan banyak. Yg pakai sepatu jelek juga banyak. Kalau temanmu sepatunya bagus-bagus, kamu malu gak papa. Lah wong ini sepatumu bagus sendiri di antara tmn2mu kok ndadak malu.”
Masih ada beberapa jenis kepercayaan diri hasil dari pola didik yg salah org tua. Yg jelas, poin penting di sini adalah bgmn memurnikan kepercayaan diri dalam diri anak, agar tdk tergantung situasi maupun kondisi yg bersifat semu. Dan dlm buku tsb pak fauzil mengemukakan solusi yg sgt jitu yaitu khutbah terakhir Rasulullah SAW di masjid Khaif, Mina:
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum mukmin adalah bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yg plg mulia di sisi Allah ialah yg paling taqwa. Tidak ada kelebihan org Arab di atas org asing kecuali krn taqwanya….”
Yes. Cuckuplah menanamkan pengertian ini kepada anak sejak dini, memahamkannya hingga merasuk di hati. Jika sudah terwujud, insyaAllah tidak ada lagi rasa minder maupun inferi krn alasan materi dan keduniawian lainnya. Dan oh kawan, tidakkah kau merindukan anak-anak kita kelak menjadi sosok karismatik dgn penuh kepercayaan diri dlm mengemban amanahnya sbg khalifah di muka bumi? mereka tidak takluk pada dunia krn dunia yg akan tunduk padanya. Mereka tidak akan merengek-rengek minta fasilitas mahal hanya utk mendongkrak kepercayaan diri mereka karena telah ada rasa cukup dalam diri mereka atas ketaqwaan dalam hati yg telah diajarkan kedua orang tuanya sejak dini. saya merindukan generasi itu… di mana ada jiwa-jiwa mus’ab bin umair yg terhunjam walau dalam raga yg tak sama. Atau keteguhan abu dzar al-ghifary, sa’ad bin ubadah, bahkan kombinasi ketiganya. Saya sangat merindukannya… (cry) dan kukira kalian pun sama.
Trus, langkah konkretnya gimana dong? Ow ow,, silakan baca sendiri ya di bukunya pak fauzil adhim. Lengkap kap kap kap pokokmen. Mulai dari memilih buku bergizi utk anak dlsb dst. Kalau ditulis di web akan sgt pjg sekali…
jd ingat lg kata seorang ustad, “Persiapkan pendidikan anak sejak 25 tahun sblm kelahirannnya!” Untuk anak-anak yg luar biasa, persiapannya tentu tdk biasa. Bersemangat belajar parenting sejak kini!
)
)
Tuhanku, bukankah Engkau memaklumi kelemahanku? dan Engkau akan menguatkanku, begitu kan seperti janji-Mu dlm kitab-Mu?